Stok : Bibit Dendrobium Spesies

Stok terbatas bibit botolan Dendrobium spesies harga Rp. 35.000,- belum termasuk ongkos kirim, siap kirim ke seluruh wilayah Indonesia menggunakan Paket TIKI, JNE, PT. Mex, PT. Next Cargo (Pesawat) untuk Pulau jawa dan Luar Jawa, da, Bis Pahala Kencana Untuk Sumatera hingga Palembang dan Seluruh Pulau Jawa dan Bali. Minimal pemesanan 5 botol.

Dendrobium lasianthera Botolan Rp. 35.000,-

Dendrobium lasianthera Botolan Rp. 35.000,-

Dendrobium schulleri Botolan Rp. 35.000,-

Dendrobium schulleri Botolan Rp. 35.000,-

Stok : Phalaenopsis Ex Taiwan

JUAL anggrek bulan ex Taiwan berbagai macam warna dan corak. Pemesanan minimal 10 pot, dan siap kirim ke seluruh Indonesia. Harga belum termasuk ongkos kirim. Pengiriman dapat menggunakan TIKI, JNE, PT Mex dan jika di wilayah P. Jawa – Bali dapat menggunakan Pahala Kencana.

Stok sewaktu-waktu dapat berubah, dan penawaran ini sangat terbatas. Tersedia juga Phalaenopsis tipe standar ex Taiwan, harga Rp. 50.000,- kualitas super. Order hubungi 08122414377 atau e-mail ke lc_nursery@yahoo.com.

Kode : Phal Std 02 Harga Rp. 50.000,-

Kode : Phal Std 02 Harga Rp. 50.000,-

Kode : Phal Std 01 Harga Rp. 50.000,-

Kode : Phal Std 01 Harga Rp. 50.000,-

Kode : Phal 11 Harga Rp. 75.000,-

Kode : Phal 11 Harga Rp. 75.000,-

Kode : Phal 10 Harga Rp. 75.000,-

Kode : Phal 10 Harga Rp. 75.000,-

Kode : Phal 09 Harga Rp. 75.000,-

Kode : Phal 09 Harga Rp. 75.000,-

Kode : Phal 08 Harga Rp. 75.000,-

Kode : Phal 08 Harga Rp. 75.000,-

Kode : Phal 07 Mini Harga Rp. 75.000,-

Kode : Phal 07 Mini Harga Rp. 75.000,-

Kode : Phal 06Harga Rp. 75.000,-

Kode : Phal 06Harga Rp. 75.000,-

Kode : Phal 05Harga Rp. 75.000,-

Kode : Phal 05Harga Rp. 75.000,-

Kode : Phal 04 Mini Harga Rp. 75.000,-

Kode : Phal 04 Mini Harga Rp. 75.000,-

Kode : Phal 03 Mini Harga Rp. 75.000,-

Kode : Phal 03 Mini Harga Rp. 75.000,-

Kode : Phal 02 Harga Rp. 75.000,-

Kode : Phal 02 Harga Rp. 75.000,-

Kode : Phal 01 Harga Rp. 75.000,-

Kode : Phal 01 Harga Rp. 75.000,-

Bijak Membeli Anggrek

Cym. Chen's Ruby

Cym. Chen’s Ruby termasuk genus Cymbidium yang dapat tumbuh dan berbunga di dataran medium tidak seperti kebanyakan Cymbidium yang dapat berbunga di dataran tinggi

Terkadang karena kegemaran pada bunga anggrek dan informasi yang kurang terhadap cara merawatnya, akan membuat kita putus asa dalam merawat anggrek. Hingga bisa dikatakan ‘kapok’ membeli anggrek. Hal ini juga pernah di alami oleh setiap orang yang masih awam atau baru memulai hobby tanaman epifit ini. Berbeda halnya jika kita hanya menikmati bunganya saja, setelah layu bisa saja kita abaikan bahkan mungkin tanamannya di buang ke tong sampah. Namun tidak demikian bagi penggemar tanaman, sekalipun sudah tidak berbunga kembali akan di rawat agar berbunga kembali.

Sedikit tips untuk penghobby anggrek yang baru mulai dalam memilih anggrek, sehingga lebih bijak dalam memilihnya :

1. Sesuaikan anggrek yang kita beli dengan tempat tinggal kita, pastikan anggrek tersebut sesuai dengan di mana kita tinggal, di daerah dataran rendah atau pesisir yang panas, daerah dataran sedang yang sejuk atau daerah dataran tinggi yang relatif dingin;

2. Pastikan cahaya matahari yang dibutuhkan oleh anggrek tersebut, apakah cocok di bawah terik matahari, atau harus ternaungi, baik oleh kanopi, pohon atau dinding rumah, Hal ini akan menentukan kerajinan berbunga;

3. Tetap beri asupan nutrisi anggrek yang telah kita beli, jangan sampai kita lupa untuk memberi pupuk dan menyiram anggrek tersebut, walaupun masih berbunga;

4. Pastikan umur muncul berbunga kembali, karena tidak semua jenis anggrek tidak bisa langsung berbunga kembali setelah selesai berbunga, bahkan beberapa jenis anggrek dapat melalukan istirahat (dorma) tanpa pertumbuhan sedikitpun dan akan memakan waktu yang tidak sebentar;

5. Cari informasi baik dari buku, kawan, atau pun media elektronik lainnya untuk mengetahui dan menambah informasi seputar anggrek.

Sekian sedikit tips yang dapat kami informasikan, jika ada pertanyaan silakan untuk menghubungi kami atau memberikan komentar terhadap tulisan ini. Salam Anggrek..

Konservasi Anggrek*

Paphiopedillum lowii

Paphiopedillum lowii

Anggrek lebih dikenal sebagai tanaman hias eksotik yang keberadaannya tersebar luas di hutan dataran tinggi hingga kawasan landai di pesisir pantai. Anggrek spesies yang tumbuh di habitat aslinya semakin hari terancam keberadaannya. Ancaman tersebut dapat berupa alih fungsi hutan menjadi areal perkebunan, industri, pertambangan dan perumahan selain ekploitasi yang berlebihan. Namun ada faktor yang tidak bisa dikendalikan oleh manusia dalam penanganannya, yaitu ancaman dari bencana alam.

Indonesia yang sebagian wilayahnya dikelilingi oleh pantai dan pegunungan dan terletak di antara dua lepeng tektonik tidak menutup kemungkinan mengalami berbagai macam bencana alam. Seperti Gunung meletus, gempa bumi yang kadang disertai dengan Tsunami, pergeseran tanah yang mengakibatkan erupsi atau longsor. Pada tahun 2010 telah terjadi berbagai bencana alam seperti Tsunami di Mentawai, tanah longsor disertai dengan banjir bandang di Wasior Papua, dan meletusnya Gunung Merapi di Yogyakarta dan Jawa Tengah dan Gunung Bromo di Jawa Timur.

Terjadinya bencana alam tersebut dapat mengancam keberadaan anggrek di habitat aslinya. Ancaman tersebut sangat serius karena dampak kerusakannya dengan cepat dan dalam areal yang sangat luas. Sehingga perlu adanya langkah strategis untuk menanggulangi dan mengurangi dampak kerusakan anggrek di alam akibat bencana alam.

KONSERVASI IN SITU DAN EX SITU

Konservasi anggrek in situ di alamnya dalam bentuk hutan lindung dan hutan konservasi terus di lakukan. Selain itu konservasi anggrek ex situ di luar kawasan harus pula dikembangkan karena dapat dijadikan back up dari habitat di alamnya. Bayangkan oleh kita jika saja konservasi in situ yang selama ini telah dilakukan di kawasan hutan Gunung Merapi dengan sekejap hancur akibat erupsi gunung tersebut. Oleh karena itu penting diusahakan konservasi ex situ di luar kawasan. Tentunya harus didukung oleh informasi kesesuain tempat tumbuh anggrek tersebut.

Upaya pemerintah selama ini memberikan tanggung jawab identifikasi, eksplorasi, koleksi, dan konservasi di pundak balai penelitian pemerintah dengan unit pelaksananya. Keberadaannya sangat nyata dalam hal pengembangan ilmu pengetahuan khususnya anggrek. Seperti  Kebun Raya Bogor, Kebun Raya Cibodas, Kebun Raya Purwodadi, dan Kebun Raya Eka Karya di Bali. Kegiatan pelestarian anggrek di lingkup institusi merupakan bagian dari koleksi spesies tanaman dari berbagai wilayah di Indonesia dalam bentuk kebun raya, cagar alam, kebun koleksi spesies, kebun koleksi plasma nutfah, dan Arboretum.

Konservasi ex situ dapat pula dilakukan oleh univeritas dengan lembaga atau organisasi yang terkait. Laboratorium, Green House dan instalasi konservasi yang dimiliki oleh institusi tersebut setidaknya harus berjauhan dengan kawasan konservasi in situ yang rawan bencana alam. Hal tersebut untuk mengindari dampak yang sama dari kerusakan bencana alam. Sebut saja usaha perbanyakan spesies anggrek dengan perbanyakan melalui kultur in vitro. Dari satu buah anggrek dapat dihasilkan beribu-ribu bibit yang tumbuh dalam media khusus. Selain itu konservasi dengan teknik cryopreservation, di mana organ tanaman dalam bentuk polen, biji anggrek dapat dibekukan dalam suhu dan ruang tertentu. Kegiatan konservasi tersebut sangat mungkin dilakukan oleh universitas.

Peran universitas yang salah satu fungsinya pengabdian pada masyarakat dapat ikut serta dalam upaya pelestarian dan konservasi anggrek di habitatnya. Konservasi bukan hanya menjadi obyek penelitian dan upaya pelestarian saja. Namun di tangan para peneliti di universitas penyebaran informasi kepada masyarakat dalam bentuk penyuluhan, desa binaan, kerjasama pengabdian masyarakat  dapat dicapai. Selain itu aspek pemanfaatan potensi dan pengembangan anggrek untuk mencegah kepunahan, dan meningkatkan nilai ekonomis tanpa bertentangan dengan tujuan konservasi terlaksana dengan sinergis.

MASYARAKAT DAN KONSERVASI

Bulb. carunculatum

Bulb. carunculatum

Upaya konservasi anggrek dapat pula mengikut sertakan organisasi peranggrekan yang ada, pecinta dan hobiis anggrek dan pengusaha anggrek dalam hal ini dapat dikatakan sebagai masyarakat yang peduli anggrek. Tidak menutup kemungkinan peran serta mereka dapat disinergikan. Hanya tinggal bagaimana sinergi tersebut saling menguntungkan dan mendukung dari program konservasi anggrek.

Selama ini masyarakat kurang dapat merasakan secara langsung manfat dari konservasi anggrek, khususnya masyarakat yang tinggal di wilayah hutan. Sehingga perambahan anggrek yang memiliki nilai ekonomis tinggi membuat masyarakat di sekitar hutan mencari dan menjualnya. Berbeda halnya jika saja ada pemahaman yang baik terhadap permasalahan konservasi di tengah masyarakat.

Tentunya masyarakat yang memiliki informasi tentang konservasi dan memanfaatkan anggrek tersebut tidak menjadi kambing hitam dari terancamnya keberadaan anggrek.

Dapat diambil contoh apa yang telah dilakukan oleh masyarakat di sekitar hutan Wonosadi (MOI Edisi lalu) selain kearifan lokal yang ada di lingkungan masyarakat, mereka pun dapat memanfaatkan potensi hutan yang ada untuk keberlangsungan hidup sehari-hari. Maka permasalahan konservasi anggrek di lingkungan hutan Wonosadi dapat teratasi dengan adanya pemahaman pentingnya menjaga kelestarian anggrek namun dari sisi ekonomi pun dapat tercapai.

Coelogyne pandurata

Coelogyne pandurata

Kesadaran konservasi anggrek di masyarakat harus didukung oleh segenap pihak. Institusi penelitian dan pendidikan dapat memberikan informasi kepada masyarakat. Selain itu para stake holder yang dalam hal ini konsumen, pengusaha, petani dan hobiis anggrek dapat berkontribusi dalam usaha konservasi. Karena tidak dapat dipungkiri bahwa stake holder ini lah anggrek menjadi bernilai ekonomis. Program konservasi yang

dilakukan oleh institusi pemerintah dan univeristas harus dapat menyentuh dan mengikutsertakan masyarakat

di sekitar hutan.

*) Tulisan ini pernah di muat di Majalah Orchid Indonesia

Dendrobium Kila Blue …

Den. Kila Blue

Den. Kila Blue

Anggrek Dendrobium Kila Blue merupakan jenis anggrek epifit yang masih merupakan Primary Hibrids. Silangan dari Dendrobium toftii (nindii) x Dendrobium williamsianum, diregistrasi oleh Limberlost’s pada tahun 1967. Sampai dengan tahun 2006 hanya tercatat satu kali persilangan yang merupakan keturunan pertama dari Dendrobium Kila Blue x Dendrobium phalaenopsis = Dendrobium Hartley’s Blue yang juga diregistrasi oleh Limberlot’s pada tahun 1971. Sangat sedikit informasi mengenai persilangan dari Primary Hibrids ini.

D. williamsianum

D. williamsianum

Sekilas memang tampak tidak terlalu menarik dan eksotik hasil persilangan tersebut. Dendrobium nindii yang merupakan salah satu tetuanya merupakan jenis anggrek Dendrobium dari section Spatulata yang tentunya memiliki ciri khas petal melintir (tanduk) atau dalam bahasa Inggris disebut Antelope Type. Sedangkan Dendrobium williamsianum masuk ke dalam section Phalaenanthe yang berbentuk bulat. Sehingga dimungkinkan Dendrobium Kila Blue memiliki bentuk dari perpaduan kedua induknya yaitu semi melintir atau bahkan berbentuk intermediate.

Namun anggrek ini dapat dijadikan sebagai batu loncatan atau induk selanjutnya yang memiliki potensi yang belum tergali. Kedua spesies induknya memiliki warna biru yang eksotis dan jarang dimiliki oleh anggrek dalam genus Dendrobium. Selain itu Dendrobium Kila Blue juga sangat kuat memiliki warna labellum biru selain berbentuk lebar. Selanjutnya tergantung kita akan mengkreasikan silangan berikutnya untuk membentuk dan mewarnainya. Selamat mencoba…

Dendrobium Eddy Djaya Remadja …

Den. Eddy Djaya Remadja

Den. Eddy Djaya Remadja

Ada yang terpuaskan saat kita memiliki anggrek koleksi yang telah lama menjadi incaran. Sehingga terasa lengkap koleksi anggrek di kebun kita. Salah satu anggrek kuno yang layak dikoleksi adalah Dendrobium Eddy Djaya Remadja. Hibrida ini merupakan silangan dari penganggrek senior Indonesia yaitu Atmo Kolopaking hasil dari silangan Dendrobium Metasari Mustika x Dendrobium superbum (Syn. anosmum) yang diregistrasi pada tahun 1975. Silangan asli dalam negeri yang sangat di nanti munculnya bunga.

Den. macrophyllum

Den. macrophyllum

Membicarakan hibrida (Primary Hybrids) ini tidak terlepas dari Dendrobium spesies yang menyumbangkan sumber gen-nya sebagai tetua. Spesies tersebut antara lain : D. veratrifolium (Syn. lineale) x D. schroederianum (Syn. phalaenopsis var. schroederianum menurut http://www.orchidspecies.com) = D. Lousiae. Pada generasi persilangan kedua D. Lousiae x D. phalaenopsis = D. Anita. Pada generasi selanjutnya yaitu generasi ketiga D. Anita x D. macrophyllum = D. Meta Sari Mustika, dan terakhir D. Meta Sari Mustika x D. anosmum = D. Eddy Djaya Remadja.

Dari hibrida ini tampak spesies yang melandasi terbentuknya D. Eddy Djaya Remadja. Spesies tersebut antara lain D. veratrifolium dari Seksi Spatulata, D. schroederianum Syn. phalaenopsis dan D. phalaenopsis dari Seksi Phalaenanthe, D. macrophyllum dari Seksi Latourea, dan D. anosmum dari Seksi Dendrobium.