Arsip

Archive for the ‘Budidaya Anggrek’ Category

Sun Burn … Kerusakan Fisiologis pada Daun Anggrek

Oktober 17, 2009 lcnursery 2 komentar
Sun Burn pada daun Cattleya

Sun Burn pada daun Cattleya

Untuk para penghobi Anggrek baru, terkadang sulit untuk menempatkan anggrek di rumahnya. Saat masih berbunga dapat disimpan di teras rumah atau bahkan di ruang tamu sebagai penghias ruangan. Tetapi saat bunga sudah layu berguguran, di mana letak yang tepat untuk menyimpan anggrek tersebut. Beberapa penghobi bahkan ada yang sudah memiliki tempat naungan untuk anggreknya. Dibuat dengan sederhana menggunakan Shading net atau bahkan ada juga yg mengandalkan kanopi pohon yang besar.

Sun Burn pada daun Dendrobium

Sun Burn pada daun Dendrobium

Namun ada kalanya penghobi yang hanya memiliki beberapa pot anggrek menjadi kesulitan dalam memeliharanya. Dan keputusan yang diambil dengan menyimpan begitu saja di halaman tanpa memperhatikan sinar matahari yang diterima oleh daun.

Pada dasarnya anggrek epifit adalah anggrek yang dapat tumbuh dengan menempel pada pohon atau pun di bebatuan di hutan. Dapat tumbuh dan berkembang dengan naungan kanopi pohon besar dan tinggi, sehingga intensitas cahaya matahari yang diterima oleh daun menjadi berkurang. Atau mungkin hanya menerima sinar matahari penuh saat pagi dan sore hari, sehingga panas terik sinar matahari tidak terlalu menyengat.

Sun Burn pada Daun Coelogyne

Sun Burn pada Daun Coelogyne

SUN BURN atau terbakar matahari merupakan gejala kerusakan secara fisiologis. Yaitu gejala di mana larutan dalam sel-sel tanaman menguap karena respirasi yang sangat cepat. Sehingga tampak kerusakan secara fisiologis dengan gejala seperti :

1. Adanya kerusakan jaringan di atas permukaan daun, berupa lingkarang berwarna putih jika tidak terlalu parah dan akan berubah warna menjadi coklat (gosong) jika terkena sinar matahari yang sangat terik;

2. Adanya cekungan pada permukaan daun dan hanya meninggalkan bekas berupa jaringan seperti jaring yg sudah kering;

3. Daun akan berlubang jika terkena sinar matahari yang sangat terik.

Seidenfadenia mitrata 'LC Blue Lip'

Seidenfadenia mitrata 'LC Blue Lip'

Untuk itu diperlukan informasi yang akurat bagaimana mencegah dari kerusakan SUN BURN pada anggrek kita. Informasi yang harus kita peroleh adalah : 1). mengetahui habitat dari anggrek yang kita pelihara. Apakah anggrek tersebut dapat adaptif terhadap sinar matahari yang kuat atau perlu dinaungi; 2). Sebagai penghobi pun harus mengetahui intensitas cahaya yang diperlukan anggrek walaupun tidak menggunakan alat. Caranya dengan trial and error mengamati pertumbuhan; 3). mencoba untuk selalu bertanya dan mencari informasi tentang budidaya anggrek. Sinar matahari merupakan faktor utama dalam pertumbuhan anggrek. Sinar matahari menyediakan energi untuk mengolah CO2 dan H2O menjadi fotosintat dalam siklus fotosintesis anggrek. Tapi pengetahuan mengenai kebutuhan akan sinar matahari pada anggrek pun perlu kita ketahui. Selain itu informasi ini dapat bermanfaat untuk membedakan kerusakan pada anggrek, apakah terkena serangan hama atau penyakit, ataukah kerusakan fisiologis akibat kesalahan dalam budidaya anggrek.

Berikut beberapa genus anggrek beserta persentasi intensitas cahaya (cahaya diterima) yang adaptif terhadap pertumbuhan:

1. Aerides 90-100%

2. Arachnis 100%

3. Bulbophyllum 65-75%

4. Cattleya 65-75%

5. Cymbidium 65-75%

6. Dendrobium (section Spatulata) 75-100%

7. Dendrobium (section Latourea) 65-75%

8. Dendrobium (section Nobile) 55-70%

9. Grammatophyllum 65-75%

10. Phalaenopsis 40-55%

11. Paphiopedilum 65-75%

Prinsip Penyerbukan untuk medapatkan Hibrida Anggrek

Oktober 11, 2009 lcnursery Tinggalkan komentar
Anatomi Bunga

Morfologi Bunga

Perbanyakan anggrek melalui proses penyerbukan dapat di katakan sebagai perbanyakan generatif. Hal ini bertujuan untuk memperoleh bibit anggrek yang baru dalam jumlah banyak, mengetahui ke-heterogenan kromosom, membuat hibrida baru dengan warna, bentuk yg variatif, dan menghasilkan bunga anggrek yang unggul.

Untuk dapat melakukan kegiatan penyerbukan maka langkah pertama adalah mengetahui morfologi dari bunga anggrek. Bunga Anggrek terdiri dari tiga Sepal dan tiga Petal di mana salah satu Petal telah termodifikasi menjadi Labellum atau lidah. Kebanyakan anggrek berkelamin komplit yaitu alat kelamin jantan dan betina berada dalam satu bunga yang letaknya berada di dalam Column. Tetapi ada juga yang terpisah seperti antara lain pada Genus Catasetum, Cynoches, Mormodes, yang memiliki satu alat kelamin pada satu bunga.

Selubung anthera (Anther Cap) membungkus 2 buah pollen yang di sebut polinia di mana menempel pada Viscidium dengan lapisan perekat. Penyerbukan dilakukan dengan menyimpan pollen pada Anther atau alat kelamin jantan pada stigma atau alat kelamin betina.

Beberapa penamaan penyerbukan yang dikenal dalam anggrek adalah :

1. Selfing : Penyerbukan sendiri pada satu Spesies anggrek dalam satu pohon; contoh : Dendrobium nindii ‘Blue Wing’ x Self

2. Sibling : Penyerbukan pada satu Spesies anggrek berbeda pohon; contoh : Phalaenopsis amabilis ‘Pure White’ x Phalaenopsis amabilis ‘Crown’

3. Crossing : Penyerbukan ini dapat berbagai macam jenis, antara lain (a) Inter section atau penyerbukan dalam Satu Genus Satu Section berbeda species; contoh : Dendrobium bigibbum (Section : Phalaenanthe) x Dendrobium affine (Section : Phalaenanthe), (b) Outer section atau penyerbukan dalam Satu Genus berbeda Sectiom berbeda species; contoh : Dendrobium affine (Section : Phalaenanthe) x Dendrobium canaliculatum (Section : Spatulata), (c) Bigenus penyerbukan antar Genus; contoh : Vanda limbata x Ascocentrum miniatum.

Phalaenopsis venosa '#1'

Phalaenopsis venosa '#1'

Dari hasil perbanyakan generatif ini akan menghasilkan buah yang di dalamnya terdapat ribuan bahkan artusan ribu biji anggrek yang menyerupai tepung berwana putih hingga kekuningan.

LC

Catasetum Alliance … Trik & Tips

September 27, 2009 lcnursery Tinggalkan komentar
Cycd. Jumbo Erebus 'Lc#1'

Cycd. Jumbo Erebus 'Lc#1'

Anggrek yang sedang digemari oleh para hobiis di Indonesia ini merupakan anggrek eksotik yang daerah penyebarannya di Amerika Tengah hingga Selatan. Tentunya memiliki habitat yang hampir mirip dengan lingkungan di Indonesia yang Tropis. Pengelompokkan terbesar dari Catasetum Alliance antara lain adalah Genus Catasetum sp., Clowesia sp., Cynoches sp., dan Mormodes sp.

Genus Catasetum, memiliki kurang lebih 166 species (Wikipedia) yang tersebar dari Mexico hingga Brazil. Ciri anatomi dari anggrek ini adalah : Pseudobulb yang gemuk menyerupai cerutu dengan buku, Daun berlipat ke atas dan gugur (Deciduous), sehingga pseudobulb akan tampak kurus setelah daun gugur. Saat anggrek tersebut remaja maka akan terjadi dormansi tanpa ada tanda pertumbuhan sedikit pun seperti penambahan akar atau tunas. Setelah beberapa bulan maka akan keluar tunas baru disertai akar baru. Untuk Catasetum dewasa sebelum dormansi maka akan mengelurkan tangkai bunga dari dasar Pseudobulb, disertai kuntum bunga yang unik. Bunga catasetum dapat berupa bunga jantan atau betina (Unisexual).

Genus Clowesia, memiliki kurang lebih 7 spesies (Wikipedia) tersebar di Amerika Selatan, dengan ciri anatomi hampir sama dengan Catasetum. Hanya bentuk bunga yang berbeda dan Pseudobulb yang lebih pendek.

Genus Cynoches, memiliki kurang lebih 16 spesies (Wikipedia) tersebar di Amerika Selatan, dengan ciri anatomi hampir sama dengan Catasetum dan Clowesia. Hanya tangkai bunga dapat keluar dari ruas Pseudobulb bagian atas. Anggrek Genus Cynoches biasa disebut sebagai Swan Orchids karena tempat menempelnya putik (Column) yang menyerupai leher angsa.

Genus Mormodes, memiliki kurang lebih 70 spesies (Wikipedia) tersebar di Amerika Selatan, dengan ciri anatomi hampir sama dengan Cynoches. Dari ke empat Genus tersebut dapat disilangkan untuk menghasilkan hibrida baru yang eksotik dengan sifat keturunan kombinasi dari tetua induknya.

Budidaya :

1. Intensitas Cahaya; kuat dengan intensitas yang terang sekitar 3.000 s.d. 6.000 Foot Candle atau setara dengan 75-80% cahaya masuk dalam rumah naungan. Bahkan beberapa penelitian mengatakan untuk menghasilkan bunga betina yang nantinya akan digunakan untuk disilangkan, Tips-nya yaituintensitas cahaya perlu di tambah saat muncul tangkai bunga.

2. Pengairan; penyiraman dilakukan sesuai dengan media yang digunakan. Untuk media yang mudah menyerap air dan lama menyimpan air seperti Sphagnum Moss, Pakis atau Sabut Kelapa maka penyiraman dapat dikondisikan saat media telah kering. Catasetum Alliance merupakan genus yang tidak suka dengan air yang banyak. Khusus saat fase dormansi maka penyiraman tidak diperlukan.

3. Kelembapan; dibutuhkan sekitar 40-60% walaupun dapat toleran hingga kondisi sangat lembap hingga 90%. Media yang baik untuk Catasetum dari yang telah kami gunakan adalah : Pakis Papan yang dipotong berbentuk dadu 4×4x4 cm, campuran sabut kelapa dengan arang, campuran arang dengan genting. Trik-nya adalah gunakan pot yang memiliki lubang samping yang cukup untuk aerasi akar.

4. Pemupukan; dapat menggunakan pupuk organik cair yang disemprotkan keseluruh bagian tanaman. Ataupun dapat menggunakan pupuk kimia dengan kandungan N:P:K=30:10:10 atau 20:20:20. Di nursery kami biasa menggunakan Top Soil atau Gaviota 63. Tips lain adalah tidak melakukan pemupukan saat fase dormansi.

Selamat mencoba dan nikmatilah keeksotikan anggrek Catasetum Alliance.

LC

Pupuk dan Pemupukan Anggrek .. 1

Agustus 19, 2009 lcnursery 4 komentar
Phal. violacea adalah anggrek spesies Indonsia
Phal. violacea adalah anggrek spesies Indonsia

Anggrek dalam proses pertumbuhan dan perkembangannya memerlukan nutrisi. Di habitat aslinya anggrek mendapatkan nutrisi yang bersumber dari debu, uap air, kotoran hewan semisal burung, atau pun untuk anggrek terestrial (anggrek tanah) dapat melalui media serasah daun yang melapuk. Sehingga nutrisi yang diperoleh sedikit demi sedikit sesuai dengan kondisi di alam.

Pertanyaannya adalah bagaimana jika anggrek tersebut telah dibudidayakan baik skala rumah tangga maupun skala komersial. Dan sumber nutrisi apa yang dapat digunakan untuk memupuk anggrek?

Sumber nutrisi untuk anggrek yang telah dibudidayakan dapat bersumber dari pupuk yang diberikan. Sama halnya dengan tanaman selain anggrek, pupuk pun merupakan salah satu faktor unsur untuk memicu produktifitas pertumbuhan atau hasil. Dalam kesempatan ini dapat disampaikan pengelompokkan pupuk antara lain :

1. Pupuk Tunggal, adalah pupuk yang memiliki unsur kimia tunggal yang disuplay untuk memenuhi kebutuhan pertumbuhan tanaman. Contohnya adalah Urea (Amoniak/N 46%), SP 36 atau SP 18 (Phosphat/P 36-18%). Unsur tersebut didapat dari pengolahan bahan kimia buatan pabrik.

2. Pupuk 2 Unsur, adalah pupuk yang memiliki 2 unsur kimia yang disuplay untuk memenuhi kebutuhan pertumbuhan tanaman. Contohnya adalah KNO3 (Kalium/K dan Nitrat/N). Unsur tersebut didapat dari pengolahan bahan kimia buatan pabrik.

3. Pupuk Majemuk, adalah pupuk yang memiliki lebih dari 3 unsur kimia yang disuplay untuk memenuhi kebutuhan pertumbuhan tanaman. Contohnya adalah NPK (Nitrogen Phosphat Kalium), biasanya memiliki kadar unsur kimia 21:21:21, 16:16:16. Dapat ditemukan di toko pertanian dengan merek Mutiara, BASF, dll. Unsur tersebut didapat dari pengolahan bahan kimia buatan pabrik.

Dengan mengetahui jenis unsur yang dikandung dalam pupuk, diharapkan para petani atau hobiis dapat menggunakan pupuk tersebut secara efektif dan efisien. Tunggu informasi selanjutnya ….. BERSAMBUNG

Categories: Budidaya Anggrek

Produk Bibit Botol (Flask) Cattleya Juli 2009

Juli 9, 2009 lcnursery 16 komentar

Kami sampaikan beberapa bibit botol silangan (hibrida) cattleya. Harga Rp. 25.000,-, isi 30 bibit. Siap kirim seluruh Indonesia. Bibit Botol Juli 2009

Foto Induk Silangan Cattleya Alliance

Foto Induk Silangan Cattleya Alliance

Kontak kami di HP. 08122414377

Dari Bibit ke Bunga

Bibit Botol

Bibit Botol

Bagi sebagian orang anggrek dapat dijadikan teman untuk melepas lelah dan penat setelah seharian berkerja dan beraktifitas lain. Namun tidak sedikit

Community Pot

Community Pot

yang memang aktifitasnya menggeluti budidaya anggrek. Lamanya pertumbuhan anggrek (slow growth) dijadikan kenikmatan tersendiri bagi petani dan hobiis anggrek.

Jika kita cermati tidak lah sebentar memelihara anggrek dari mulai bibit botol (flask) hingga

Seedling

Seedling

berbunga. Ambilah contoh jika kita menanam anggrek Dendrobium dan Phalaenopsis, dapat dirata-ratakan lama pertumbuhan dari aklimatisasi bibit botol (flask) – seedling – medium – remaja – dewasa (near flowering size) – hingga berbunga dapat mencapai waktu 1,5 tahun hingga 2,5 tahun. Untuk jenis tertentu

Medium

Medium

misalnya Cattleya dan Vanda melalui proses yang sama dapat mencapai 3,5 tahun hingga 5 tahun.

Untuk sebagaian orang, inilah yang disebut kenikmatan dan seni membudidayakan anggrek. Hari demi hari, bulan demi bulan hingga tahunan untuk satu kenikmatan menunggu dan berharap bunga akan keluar. Bukan suatu keniscayaan jika para penghobi anggrek pemula dapat melalui proses pembelajaran  ini.

D. Golden Queen x D. violaceo-flavens

D. Golden Queen x D. violaceo-flavens

Merawat & Membungakan Cattleya ‘the Queen of Orchid’

Februari 23, 2009 lcnursery Tinggalkan komentar

c-guatemalensis-x-lc-rojoCattleya termasuk ke dalam salah satu dari 5 genus terpopuler di dunia selain Dendrobium, Paphiopedilum, Phalaenopsis dan Cymbidium. Penyebarannya dari Amerika tengah hingga ke Selatan. Kekerabatan yang dekat dengan genus yang lain seperti Brassavola, Laelia, Sophronitis, Epidendrum, Caulatron, Broughtonia, Schomburgia. Sehingga menghasilkan hibrida-hibrida baru yang menarik dan atraktif.

c-sophia-martin-x-c-thospol-tricum-porm-flower-girl_5001Beberapa spesiesnya antara lain : C. bowringiana (Honduras), C. citrina (Mexico), C. dowiana (Costa Rica), C. guttata (Brazil), C. intermedia (Brazil), C. labiata (Brazil), C. trianaei (Colombia). Pembudidayaan di Indonesia dapat dilakukan dengan baik dikarenakan adanya kemiripan iklim tropis dengan daerah asalnya. Untuk memperbaiki sifat spesiesnya maka dilakukan persilangan baik antar spesies ataupun antar genus. Hasilnya adalah bunga yang lebih besar, warna yang lebih atraktif, wangi, lebih tahan lama, dan berbunga di luar musim.

blc-orglades-grand-white-tian-mu_500Perawatan dan pembungaan anggrek Cattleya dapat dilakukan di Indonesia. Syarat tumbuhnya adalah sebagai berikut :

Media : dapat berupa media tunggal seperti Pakis, Sphagnum Moss, Kulit Kayu Pinus, ataupun Arang. Dapat pula menggunakan media kombinasi seperti Pakis dan Batu Zeolit, Pakis dan Sphagnum Moss, Pakis dan Arang.

Pot : dapat menggunakan pot keramik, pot plastik, kayu yang dapat disimpan di atas meja dan dapat digantung.

Suhu, Kelembapan dan Cahaya optimal berkisar antara 21 – 28 derajat Celsius di malam hari dan 27 – 31 derajat Celsius di siang hari. Kelebapan optimal adalah 65% – 85%. Cahaya yang dibutuhkan 60% – 75%.

Penyiraman ukuran baku dalam penyiraman tergantung kadar air yang terserap media tanam. Oleh karena perbedaan aplikasi penyiraman tergantung media tanam. Contohnya untuk Pakis dapat dilakukan pagi hari setiap hari.

Medium Size

Medium Size

Pemupukan tergantung dari fase pertumbuhan seperti bibit hingga remaja dapat menggunakan pupuk dengan kadar N:P:K = 25:5:20dan 30:10:10. Menjelang remaja hingga dewasa dapat menggunakan pupuk dengan kadar N:P:K = 20:20:20 dan 21:21:21. Untuk merangsang pembungaan dapat menggunakan pupuk dengan kadar N:P:K = 13:27:27, 10:55:10, 6:30:30 atau 10:40:15.

Beberapa hibrida hasil persilangan telah kami hasilkan terutama dari induk silangan yang memiliki tingkat kerajinan berbunga baik. Hibrida-hibrida tersebut antara lain :

Daftar Produk Cattleya LC


Perbanyakan Generatif Paphiopedilum prestans

Januari 1, 2009 lcnursery 2 komentar

paphiopedilum-prestans_1Genus Paphiopedilum atau biasa disebut Lady Slipper dalam bahasa Inggris dan Anggerik Kasut dalam bahasa Malaysia masuk ke dalam 5 genus utama anggrek selain Cattleya, Cymbidium, Dendrobium, dan Phalaenopsis. Penyebarannya dari mulai China hingga Asia Tenggara. Paphiopedilum prestans merupakan spesies endemik yang penyebarannya hanya ada di Papua Indonesia. Dalam beberapa literatur Paphiopedilum prestans memiliki nama lain atau sinonim dengan Paphiopedilum glanduliferum, Paphiopedilum prestans var. wilhelminae, Paphiopedilum gardnerii.

Perbanyakan generatif melalui persilangan baik untuk tujuan konservasi dengan cara Selfing atau Sibling, atau untuk tujuan hibridisasi menghasilkan jenis baru dengan cara Crossing dapat dilakukan. Keunikan dari Genus Paphiopedilum adalah letak Column yang terlindungi oleh Lip atau Labellum, sehingga ada trik tertentu untuk dapat membuahinya. Pollen dari Paphiopedilum tidak berbentuk pollinia tetapi hanya berbentuk cairan lendir berwarna kuning yang membentuk gumpalan yang letaknya di samping column, sehingga memerlukan alat bantu seperti cotton bud untuk mengambil pollinia. Sedangkan alat kelamin betina tepat berada di bawah terlindungi labellum, sehingga perlu menggunakan alat seperti cutter untuk melubangi atau bahkan memotong labellum.

Langkah-langkah dalam penyerbukan Paphiopedilum prestans sebagai berikut:

paphiopedilum-prestans_21. Lubangi atau potong labellumnya sehingga akan memudahkan dalam penyerbukan;

2. Ambil pollinia dengan cara menempelkan atau menggosokannya pada cotton bud;

paphiopedilum-prestans_313. Setelah pollinia terambil dapat dilihat bahwa cotton bud berwarna kuning, maka proses penyerbukan dengan menggosokan cotton bud pada permukaan alat kelamin betina yang mengandung perekat. Sebagai catatan bahwa alat kelamin betina pada Genun Paphioedilum tidak berbentuk lubang seperti halnya pada Genus Cattleya, Dendrobium dan Phalaenopsis. Melainkan berbentuk cakram seperti piring yang permukaannya memiliki perekat;

paphiopedilum-prestans_44. Setelah penyerbukan dilakukan, pasang label penanda persilangan dan tanggal persilangan. Langkah selanjutnya menunggu hasil dari penyerbukan, jika bunga layu kemudian rontok maka proses penyerbukan gagal. Waktu yang dibutuhkan hingga buah matang atau siap untuk ditanam dalam media kultur sekitar 9 – 15 bulan, sangat lama bukan.

Terdapat kepuasan jika dapat menghasilkan silangan sendiri. Selamat mencoba.

LC Nursery & Laboratory

Musim Hujan dan Penyakit pada Anggrek ‘Bakteri’

Oktober 31, 2008 lcnursery 4 komentar

Perubahan cuaca yang telah memasuki musim hujan, merupakan hal yang sudah menjadi ketentuan ‘Pengatur Jaga Raya’ ini. Kekhasan dari daerah beriklim Tropis seperti Indonesia yang memiliki 2 musim yaitu tatkala musim kemarau berakhir masuklah musim penghujan. Nantinya inilah yang membedakan antara daerah beriklim Tropis dengan daerah beriklim Subtropis dalam hal memelihara anggrek.

Anggrek di alamnya tumbuh dengan cekaman yang ekstrim, contohnya jika musim hujan maka hutan akan menyediakan air yang berlebih dan pada musim kemarau tentunya ketersediaan air bagi tumbuh dan berkembangnya anggrek menjadi berkurang. Tetapi permasalahan ini timbul tatkala kita memelihara anggrek di rumah atau di kebun. Penyakit yang menyerang anggrek antara lain dapat diakibatkan oleh Bakteri dan Jamur. Kedua penyakit ini berbeda dari cara serangannya, gejalanya, penyebarannya, penanggulangannya, dan pencegahan. Penyakit tersebut antara lain :

Erwinia carotovora (Busuk Lunak) diakibatkan oleh Bakteri, jika anda pernah melihat busuk lunak pada pangkal ‘Wortel’ atau ‘Kubis/Kol’ itulah salah satu penyakit yang disebabkan oleh bakteri Erwinia sp. Pada anggrek dapat menyerang pangkal batang, tunas baru, mata tunas, dan akar. Cara Serangan : Masuk ke dalam jaringan tanaman melalui lubang tanaman, luka pada tanaman, dan bekas potongan (Split). Gejala : Jaringan tanaman yang terserang berubah warna menjadi kuning kemudian coklat, biasanya mengeluarkan cairan lendir berbau busuk. Penyebaran penyakit : Cipratan air hujan yang jatuh ke tanah kemudian dipantulkan ke atas kembali, angin, tangan manusia, serangga, gesekan pakaian manusia, alat-alat pemotong. Pengendalian : Karantina tanaman yang terserang, jauhkan dari tanaman sehat, bakar tanaman, bersihkan alat pemotong dengan dibakar atau gunakan alkohol 70% sebelum digunakan. Alternatif pengendalian secara kimia adala menggunakan Physan 20 atau Streptomycin (Anti Biotik). Pencegahan : Sanitasi kebun, tinggikan rak untuk menghindari cipratan balik air hujan, Sirkulai udara. Pencegahan kikia menggunakan bakterisida atau anti biotik.

Phytomonas cattleyae (Busuk Coklat) diakibatkan oleh Bakteri, Serangan bakteri ini biasa menyerang anggrek genus Phalaenopis dan Cattleya, tetapi tidak menutup kemungkinan anggrek genus lain. Cara Serangan : Masuk ke dalam jaringan tanaman melalui lubang tanaman (stomata dan kutikula). Itulah kenapa pada Phalaenopsis serangannya sangat cepat busuk coklat di tengah daun walaupun daun anggrek tersebut tidak luka, genangan air sisa penyiraman di atas permukaan daun. Gejala : Daun berubah warna kemudian melunak (seperti berair di dalam jaringan). Terutama pada cattleya menyerang daun-daun tua yang penyebarannya dibatasi sopt hitam pada permukaan daun. Penyebaran penyakit : Air genangan sisa penyiraman, jika sudah terserang hati-hati dengan penularannya. Penularan dapat melalui tangan manusia, alat-alat kerja, gesekan pakaian. Pengendalian : Karantina tanaman yang terserang, jauhkan dari tanaman sehat, bakar tanaman, bersihkan alat pemotong dengan dibakar atau gunakan alkohol 70% sebelum digunakan. Potong bagian tanaman pada daun yang sehat dengan jarak yang cukup aman dari spot hitam pada daun. Alternatif pengendalian secara kimia adala menggunakan Physan 20 atau Streptomycin (Anti Biotik). Pencegahan : Sanitasi kebun, Sirkulai udara dapat mengurangi penyebaran dan menghindari serangan dikarenakan air siraman tidak menggenang terlalu lama. Pencegahan kimia dapat menggunakan bakterisida atau anti biotik.

Aklimatisasi Bibit Anggrek ‘ala LC Nursery’

Oktober 6, 2008 lcnursery 23 komentar

Kompot dalam Tray

Kompot dalam Tray

Aklimatisasi atau penyesuaian terhadap lingkungan baru dari lingkungan yang terkendali ke lingkungan yang relatih berubah. Bibit anggrek hasil perbanyakan secara in vitro membutuhkan proses adaptasi sebelum tumbuh besar menjadi tanaman.  Untuk itu perlu kiranya mengetahui tahapannya sebagai berikut :

-         Kriteria bibit botol yang siap dikeluarkan yaitu daun sudah menyentuh dinding atas botol, akar sudah tumbuh dengan baik, media sudah habis/kering, atau jika bibit dalam botol terkontaminasi jamur atau bakteri sehingga perlu segera dikeluarkan;

-         Tulis kode silangan atau nama jenis anggrek beserta tanggal keluar bibit botol gantungkan di baki kompot, tulis juga dalam buku sewaktu-waktu dapat dilacak;

-         Gunakan tray plastik berlubang sebagai pengganti pot kompot

-         Buka tutup botol dan gunakan kawat berujung melengkung ‘U’ dan tarik satu persatu bibit, usahakan akar terlebih dahulu yang di kelurkan;

-         Untuk mempercepat pekerjaan dapat pula dengan cara bungkus botol dengan koran dan pukul belakang botol dengan palu hingga pecah;

-         Setelah bibit dikeluarkan, dibilas di atas tray plastik berlubang kemudian semprot dengan air mengalir hingga sisa media agar yang menempel pada akar bersih;

-         Tiriskan bibit yang bersih di atas kertas koran;

-         Tanaman secara berkelompok bibit sesuai dengan ukuran bibit yang besar terlebih dahulu kemudian bibit yang kecil dengan posisi bibit berdiri;

-         Setelah selesai menanam simpan kompot anggrek di tempat yang teduh bersirkulasi udara baik;

-         Semprot menggunakan handsprayer kompot anggrek tadi keesokan harinya; setiap hari selama satu minggu;

-         Setelah satu minggu pertama penyiraman sudah dapat menggunakan air mengalir dari selang; pemupukan sudah dapat diaplikasikan menggunakan pupuk yang berimbang kadar N:P:K = 21:21:21 dengan konsentrasi ¼ anjuran dalam kemasan satu minggu dua kali;

-         Penggunaan Vitamin B1 dapat juga digunakan dengan konsentrasi 1/4/ anjuran dalam kemasan satu minggu sekali;

-         Setelah kompot anggrek berumur kurang lebih 1 – 1,5 bulan dengan ciri bibit sudah kekar dan akar baru sudah tumbuh, bibit dapat ditanam dalam individual pot berukuran 5 cm dengan media pakis atau sabut kelapa. Bibit dengan ukuran kecil dapat diteruskan penanamannya dalam kompot;

-         Catatan: Masing-masing nursery dan petani memiliki cara yang berbeda-beda. Cara yang kami lakukan bisa disebut dengan cara kering, dengan maksud menghindari bibit terlalu sering terkena air, karena akan mengakibatkan bibit menjadi lemas (osmosis rendah). Sehingga bibit saat ditanam akan layu dan tidak dapat berdiri;

-          Penggunaan fungisida yang biasa digunakan dalam beberapa buku tentang aklimatisasi dengan merendam bibit sebelum ditanam tidak kami lakukan kecuali bibit dalam botol sebelumnya sudah terkontaminasi jamur.  

 

Categories: Budidaya Anggrek Tag: