Penyakit Antraknosa dan Pengendaliannya pada Anggrek

Bulbophyllum echinolabium

Kondisi musim hujan yang ekstrim di Indonesia dengan di tandai curah hujan yang tinggi dan kelembapan yang tinggi, dapat memicu muncul dan berkembangnya penyakit yang disebabkan oleh jamur. Penyakit yang banyak menyerang pertanaman anggrek salah satunya adalah penyakit Antraknosa. Beberapa liputan di media televisi dan media cetak banyak membahas meliput serangan jamur ini pada pertanaman cabai dan mengakibatkan gagal panen dan merugikan petani.

Anggrek yang dibudidayakan tentunya harus terbebas dari serangan penyakit Antraknosa karena dapat menyebabkan kerusakan pada daun sehingga menjadi tidak indah dipandang. Selain itu pada gejala serangan

Antraknosa pada daun Bulbophyllum

yang meluas dapat mengakibatkan kematian pada tanaman anggrek. Antraknosa atau biasa disebut Antrachnose menurut Prof. Haryono Semangun (1994) disebabkan oleh jamur Colletotrichum gloeosparioides (panz.) Sacc.

Gejala yang tampak dari serangan penyakit ini adalah : Pada daun dan pseudobulb timbul bercak coklat berwarna kuning atau hijau muda. Pada stadia serangan lanjut dapat terlihat lingkaran-lingkaran coklat yang meluas, ditandai dengan adanya lingkarang berwarna kuning kecoklatan pada bagian luar serangan. Serangan pada kelopak bunga berwarna coklat dengan bintik-bintik kecil, dan akan merusak keindahan bunga yang akhirnya menurunkan nilai jual bahkan tidak dapat dijual.

Antraknosa pada daun Bulbophyllum

Penyakit ini dapat menyerang anggrek dari Genus Dendrobium, Phalaenopsis, Cattleya, Oncidium, Coelogyne, Bulbophyllum dan lain-lain. Dengan kata lain, penyakit ini dapat menyebar luas pada genus-genus anggrek yang biasa di budidayakan. Cara penyerangan dan penyebaran dari penyakit ini dapat diakibatkan kelembapan disekitar pertanaman yang tinggi sedangkan aerasi (siklus udara) kurang, pori-pori daun atau luka pada pertanaman, percikan air atau akibat serangan serangga sebelumnya. Secara fisik tanaman pun dapat mengakibatkan serangan penyakit tersebut. Seperti tanaman terkena luka bakar (plasmolisis) akibat sinar matahari, tanaman terlalu subur diakibatkan terlalu banyak pemberian pupuk Nitrogen (N).

Antraknosa pada daun Phalaenopsis

Pengendalian penyakit ini alangkah baiknya dengan cara yang bijaksana. Bukan saja mengandalkan fungisida (anti jamur) berbahan aktif benomyl, zineb dan atau mancozeb. Tapi harus mengusahakan kondisi lingkungan yang tidak menyebabkan penyebaran penyakit. Seperti pertanaman tidak terlalu rapat, aerasi baik dengan kondisi tersebut kelembapan dapat meningkat, tidak menyiram pada saat kelembapan tinggi contohnya saat hujan atau mendung, tidak menyiram saat media masih basah. Selain itu dari teknik budidaya seperti menggunakan pupuk yang NPK berimbang dan tidak berlebihan, memotong bagian tanaman yang terserang agak tidak menyebar dan lakukan karantina dengan memisahkan dengan tanaman yang sehat.

Antraknosa

Demikian sekilas mengenai penyakit anggrek yang disebabkan jamur. Untuk menghasilkan anggrek yang berkualitas baik, tentunya perhatian dan perawatan mutlak diperlukan. Penyakit tidak akan menyerang jika tepat perawatan dan tepat lingkungan. Salam Anggrek.

Disarikan dari berbagai sumber :

Haryono Semangun. 1994. Penyakit-penyakit Tanaman Hortikultura di Indonesia. UGM Press. Yogyakarta.

Musim Hujan dan Penyakit pada Anggrek ‘Bakteri’

Perubahan cuaca yang telah memasuki musim hujan, merupakan hal yang sudah menjadi ketentuan ‘Pengatur Jaga Raya’ ini. Kekhasan dari daerah beriklim Tropis seperti Indonesia yang memiliki 2 musim yaitu tatkala musim kemarau berakhir masuklah musim penghujan. Nantinya inilah yang membedakan antara daerah beriklim Tropis dengan daerah beriklim Subtropis dalam hal memelihara anggrek.

Anggrek di alamnya tumbuh dengan cekaman yang ekstrim, contohnya jika musim hujan maka hutan akan menyediakan air yang berlebih dan pada musim kemarau tentunya ketersediaan air bagi tumbuh dan berkembangnya anggrek menjadi berkurang. Tetapi permasalahan ini timbul tatkala kita memelihara anggrek di rumah atau di kebun. Penyakit yang menyerang anggrek antara lain dapat diakibatkan oleh Bakteri dan Jamur. Kedua penyakit ini berbeda dari cara serangannya, gejalanya, penyebarannya, penanggulangannya, dan pencegahan. Penyakit tersebut antara lain :

Erwinia carotovora (Busuk Lunak) diakibatkan oleh Bakteri, jika anda pernah melihat busuk lunak pada pangkal ‘Wortel’ atau ‘Kubis/Kol’ itulah salah satu penyakit yang disebabkan oleh bakteri Erwinia sp. Pada anggrek dapat menyerang pangkal batang, tunas baru, mata tunas, dan akar. Cara Serangan : Masuk ke dalam jaringan tanaman melalui lubang tanaman, luka pada tanaman, dan bekas potongan (Split). Gejala : Jaringan tanaman yang terserang berubah warna menjadi kuning kemudian coklat, biasanya mengeluarkan cairan lendir berbau busuk. Penyebaran penyakit : Cipratan air hujan yang jatuh ke tanah kemudian dipantulkan ke atas kembali, angin, tangan manusia, serangga, gesekan pakaian manusia, alat-alat pemotong. Pengendalian : Karantina tanaman yang terserang, jauhkan dari tanaman sehat, bakar tanaman, bersihkan alat pemotong dengan dibakar atau gunakan alkohol 70% sebelum digunakan. Alternatif pengendalian secara kimia adala menggunakan Physan 20 atau Streptomycin (Anti Biotik). Pencegahan : Sanitasi kebun, tinggikan rak untuk menghindari cipratan balik air hujan, Sirkulai udara. Pencegahan kikia menggunakan bakterisida atau anti biotik.

Phytomonas cattleyae (Busuk Coklat) diakibatkan oleh Bakteri, Serangan bakteri ini biasa menyerang anggrek genus Phalaenopis dan Cattleya, tetapi tidak menutup kemungkinan anggrek genus lain. Cara Serangan : Masuk ke dalam jaringan tanaman melalui lubang tanaman (stomata dan kutikula). Itulah kenapa pada Phalaenopsis serangannya sangat cepat busuk coklat di tengah daun walaupun daun anggrek tersebut tidak luka, genangan air sisa penyiraman di atas permukaan daun. Gejala : Daun berubah warna kemudian melunak (seperti berair di dalam jaringan). Terutama pada cattleya menyerang daun-daun tua yang penyebarannya dibatasi sopt hitam pada permukaan daun. Penyebaran penyakit : Air genangan sisa penyiraman, jika sudah terserang hati-hati dengan penularannya. Penularan dapat melalui tangan manusia, alat-alat kerja, gesekan pakaian. Pengendalian : Karantina tanaman yang terserang, jauhkan dari tanaman sehat, bakar tanaman, bersihkan alat pemotong dengan dibakar atau gunakan alkohol 70% sebelum digunakan. Potong bagian tanaman pada daun yang sehat dengan jarak yang cukup aman dari spot hitam pada daun. Alternatif pengendalian secara kimia adala menggunakan Physan 20 atau Streptomycin (Anti Biotik). Pencegahan : Sanitasi kebun, Sirkulai udara dapat mengurangi penyebaran dan menghindari serangan dikarenakan air siraman tidak menggenang terlalu lama. Pencegahan kimia dapat menggunakan bakterisida atau anti biotik.