Seni Bertanam Anggrek

Hampir 3-4 tahun rasanya saya tidak aktif dalam menulis di Blog Anggrek ini. Seiring dengan penugasan yang tidak stay di satu tempat. Beberapa koleksi pun hancur berantakan, Laboratorium, kebun dan semua koleksi anggrek sudah tidak ada lagi.

Maaf jangan dijadikan sebagai demotifasi rekan-rekan pecinta anggrek. Dengan tulisan ni saya ingin memulainya kembali. Menggeluti hobby yang sejak SMA saya geluti. Tdak terbayang  20 tahun yang lalu saya hobby anggrek, menanamnya dan hanya sekedar menumbuhkan daunnya saja sudah cukup bahagia. Dan yang lebih bahgia adalah.. membahagiakan Ibu saya yg senang anggrek.

Ya.. dengan hanya waktu 3-4 tahun semua sirna. Dan ucapan maaf ini saya ucapkan pada konsumen, rekan penganggrek. Karena sampai saat ini nomer telepon ini masih juga berbunyi untuk menanyakan ‘ada stok anggrek apa..?’  Saya hanya bisa menjawab maaf sementara ini kami tidak berjualan anggrek karena rumah sekaligus kebun kami berserta lab nya sedang renovasi. Mudah-mudahan di tahun 2018 kami memulai kembali dengan dunia anggrek sebagai hobby yang mengasyikan.

Sebagai memory dan penyemangat untuk saya sendiri, berikut saya postingkan anggrek Dendrobium Kiki Hendarsyah (D. conanthum x D. nindii) yang pernah saya silangkan.

d.jpg

Advertisements

Kondisi Anggrek di Musim Hujan

Aerides odorata kerabat Vanda yang dapat tumbuhn dengan baik saat musim hujan

Aerides odorata kerabat Vanda yang dapat tumbuhn dengan baik saat musim hujan

Memasuki bulan November di beberapa wilayah di Indonesia memasuki musim hujan. Untuk itu para penghobi harus mencermati perubahan iklim tersebut yang berhubungan secara langsung dengan Anggreknya. Beberapa jenis (Genus) anggrek dapat hidup dengan baik pada kondisi terken air hujan. Seperti halnya Genus Vanda dan sejumlah kerabatnya. Vanda dapat sangat optimal pertumbuhannya saat musim hujan. Akar-akar baru akan bermunculan, dan terlihat gemuk dan segar. Dikarenakan akar Vanda yang lebih berfungsi sebagai akar Udara yang bergelantungan walaupun tanda media tanam.

Untuk genus Dendrobium khususnya dendrobium standar yang banyak beredar di Indonesia seperti tipe Keriting (Spatulata), tipe bulat (Phalaenanthae) dan tipe Intermediate yang merupakan persilangan keduanya dapat hidup dengan baik saat terkena air hujan langsung. Bulb (batangnya) akan nampak menggemuk daun pun berwarna hijau mengkilap, akar2 baru akan ermunculan. Namun perlu dicermati penggunaan media tanamnya. Jika media tanam menggunakan bahan yang mudah meloloskan air seperti arang kayu atau di tempel di batang kayu maka penyimpanan anggrek di hujankan secara langsung tidak terlalu bermasalah. Namun jika menggunakan media tanam yang mudah menyerap air maka harus dengan seksama diperhatikan. Karena air hujan yang terus menerus dapat membuat media tanam menjadi menjadi selalu basah dan memadat, sehingga aerasi udara dalam media menjadi berkurang. Sehingga akar baru tidak akan muncul, akar lama akan membusuk dan mempengaruhi pembusuka hingga bulb dan menyebakan kematian. Media tanam yang mudah menyimpan air antara lain pakis, serabut kelapa, ijuk, Sphagnum moss, akar kadaka, dan humus kaliandra.

D. Ricky Sie-Ahulani Hinojosa x D. Doctor Jamillah Ariffin

D. Ricky Sie-Ahulani Hinojosa x D. Doctor Jamillah Ariffin

Solusinya adalah 1) menggunakan media tanam kombinasi antara media yang keras seperti arang kayu dan salah satu dari media yang dapat menyimpan air; 2) menyimpan anggrek saat hujan ke tempat yang tidak terkena cipratan air hujan jika media masih basah; 3) tidak melakukan penyiraman saat media masih basah; 4) lakukan usaha terakhir dengan penyemprotan fungisida (anti jamur) dan atau bakterisida (anti bakteri) secara teratur pada tanaman anggrek kita.

Selamat berkebun, salam anggrek

Bijak Membeli Anggrek

Cym. Chen's Ruby

Cym. Chen’s Ruby termasuk genus Cymbidium yang dapat tumbuh dan berbunga di dataran medium tidak seperti kebanyakan Cymbidium yang dapat berbunga di dataran tinggi

Terkadang karena kegemaran pada bunga anggrek dan informasi yang kurang terhadap cara merawatnya, akan membuat kita putus asa dalam merawat anggrek. Hingga bisa dikatakan ‘kapok’ membeli anggrek. Hal ini juga pernah di alami oleh setiap orang yang masih awam atau baru memulai hobby tanaman epifit ini. Berbeda halnya jika kita hanya menikmati bunganya saja, setelah layu bisa saja kita abaikan bahkan mungkin tanamannya di buang ke tong sampah. Namun tidak demikian bagi penggemar tanaman, sekalipun sudah tidak berbunga kembali akan di rawat agar berbunga kembali.

Sedikit tips untuk penghobby anggrek yang baru mulai dalam memilih anggrek, sehingga lebih bijak dalam memilihnya :

1. Sesuaikan anggrek yang kita beli dengan tempat tinggal kita, pastikan anggrek tersebut sesuai dengan di mana kita tinggal, di daerah dataran rendah atau pesisir yang panas, daerah dataran sedang yang sejuk atau daerah dataran tinggi yang relatif dingin;

2. Pastikan cahaya matahari yang dibutuhkan oleh anggrek tersebut, apakah cocok di bawah terik matahari, atau harus ternaungi, baik oleh kanopi, pohon atau dinding rumah, Hal ini akan menentukan kerajinan berbunga;

3. Tetap beri asupan nutrisi anggrek yang telah kita beli, jangan sampai kita lupa untuk memberi pupuk dan menyiram anggrek tersebut, walaupun masih berbunga;

4. Pastikan umur muncul berbunga kembali, karena tidak semua jenis anggrek tidak bisa langsung berbunga kembali setelah selesai berbunga, bahkan beberapa jenis anggrek dapat melalukan istirahat (dorma) tanpa pertumbuhan sedikitpun dan akan memakan waktu yang tidak sebentar;

5. Cari informasi baik dari buku, kawan, atau pun media elektronik lainnya untuk mengetahui dan menambah informasi seputar anggrek.

Sekian sedikit tips yang dapat kami informasikan, jika ada pertanyaan silakan untuk menghubungi kami atau memberikan komentar terhadap tulisan ini. Salam Anggrek..

Konservasi Anggrek*

Paphiopedillum lowii

Paphiopedillum lowii

Anggrek lebih dikenal sebagai tanaman hias eksotik yang keberadaannya tersebar luas di hutan dataran tinggi hingga kawasan landai di pesisir pantai. Anggrek spesies yang tumbuh di habitat aslinya semakin hari terancam keberadaannya. Ancaman tersebut dapat berupa alih fungsi hutan menjadi areal perkebunan, industri, pertambangan dan perumahan selain ekploitasi yang berlebihan. Namun ada faktor yang tidak bisa dikendalikan oleh manusia dalam penanganannya, yaitu ancaman dari bencana alam.

Indonesia yang sebagian wilayahnya dikelilingi oleh pantai dan pegunungan dan terletak di antara dua lepeng tektonik tidak menutup kemungkinan mengalami berbagai macam bencana alam. Seperti Gunung meletus, gempa bumi yang kadang disertai dengan Tsunami, pergeseran tanah yang mengakibatkan erupsi atau longsor. Pada tahun 2010 telah terjadi berbagai bencana alam seperti Tsunami di Mentawai, tanah longsor disertai dengan banjir bandang di Wasior Papua, dan meletusnya Gunung Merapi di Yogyakarta dan Jawa Tengah dan Gunung Bromo di Jawa Timur.

Terjadinya bencana alam tersebut dapat mengancam keberadaan anggrek di habitat aslinya. Ancaman tersebut sangat serius karena dampak kerusakannya dengan cepat dan dalam areal yang sangat luas. Sehingga perlu adanya langkah strategis untuk menanggulangi dan mengurangi dampak kerusakan anggrek di alam akibat bencana alam.

KONSERVASI IN SITU DAN EX SITU

Konservasi anggrek in situ di alamnya dalam bentuk hutan lindung dan hutan konservasi terus di lakukan. Selain itu konservasi anggrek ex situ di luar kawasan harus pula dikembangkan karena dapat dijadikan back up dari habitat di alamnya. Bayangkan oleh kita jika saja konservasi in situ yang selama ini telah dilakukan di kawasan hutan Gunung Merapi dengan sekejap hancur akibat erupsi gunung tersebut. Oleh karena itu penting diusahakan konservasi ex situ di luar kawasan. Tentunya harus didukung oleh informasi kesesuain tempat tumbuh anggrek tersebut.

Upaya pemerintah selama ini memberikan tanggung jawab identifikasi, eksplorasi, koleksi, dan konservasi di pundak balai penelitian pemerintah dengan unit pelaksananya. Keberadaannya sangat nyata dalam hal pengembangan ilmu pengetahuan khususnya anggrek. Seperti  Kebun Raya Bogor, Kebun Raya Cibodas, Kebun Raya Purwodadi, dan Kebun Raya Eka Karya di Bali. Kegiatan pelestarian anggrek di lingkup institusi merupakan bagian dari koleksi spesies tanaman dari berbagai wilayah di Indonesia dalam bentuk kebun raya, cagar alam, kebun koleksi spesies, kebun koleksi plasma nutfah, dan Arboretum.

Konservasi ex situ dapat pula dilakukan oleh univeritas dengan lembaga atau organisasi yang terkait. Laboratorium, Green House dan instalasi konservasi yang dimiliki oleh institusi tersebut setidaknya harus berjauhan dengan kawasan konservasi in situ yang rawan bencana alam. Hal tersebut untuk mengindari dampak yang sama dari kerusakan bencana alam. Sebut saja usaha perbanyakan spesies anggrek dengan perbanyakan melalui kultur in vitro. Dari satu buah anggrek dapat dihasilkan beribu-ribu bibit yang tumbuh dalam media khusus. Selain itu konservasi dengan teknik cryopreservation, di mana organ tanaman dalam bentuk polen, biji anggrek dapat dibekukan dalam suhu dan ruang tertentu. Kegiatan konservasi tersebut sangat mungkin dilakukan oleh universitas.

Peran universitas yang salah satu fungsinya pengabdian pada masyarakat dapat ikut serta dalam upaya pelestarian dan konservasi anggrek di habitatnya. Konservasi bukan hanya menjadi obyek penelitian dan upaya pelestarian saja. Namun di tangan para peneliti di universitas penyebaran informasi kepada masyarakat dalam bentuk penyuluhan, desa binaan, kerjasama pengabdian masyarakat  dapat dicapai. Selain itu aspek pemanfaatan potensi dan pengembangan anggrek untuk mencegah kepunahan, dan meningkatkan nilai ekonomis tanpa bertentangan dengan tujuan konservasi terlaksana dengan sinergis.

MASYARAKAT DAN KONSERVASI

Bulb. carunculatum

Bulb. carunculatum

Upaya konservasi anggrek dapat pula mengikut sertakan organisasi peranggrekan yang ada, pecinta dan hobiis anggrek dan pengusaha anggrek dalam hal ini dapat dikatakan sebagai masyarakat yang peduli anggrek. Tidak menutup kemungkinan peran serta mereka dapat disinergikan. Hanya tinggal bagaimana sinergi tersebut saling menguntungkan dan mendukung dari program konservasi anggrek.

Selama ini masyarakat kurang dapat merasakan secara langsung manfat dari konservasi anggrek, khususnya masyarakat yang tinggal di wilayah hutan. Sehingga perambahan anggrek yang memiliki nilai ekonomis tinggi membuat masyarakat di sekitar hutan mencari dan menjualnya. Berbeda halnya jika saja ada pemahaman yang baik terhadap permasalahan konservasi di tengah masyarakat.

Tentunya masyarakat yang memiliki informasi tentang konservasi dan memanfaatkan anggrek tersebut tidak menjadi kambing hitam dari terancamnya keberadaan anggrek.

Dapat diambil contoh apa yang telah dilakukan oleh masyarakat di sekitar hutan Wonosadi (MOI Edisi lalu) selain kearifan lokal yang ada di lingkungan masyarakat, mereka pun dapat memanfaatkan potensi hutan yang ada untuk keberlangsungan hidup sehari-hari. Maka permasalahan konservasi anggrek di lingkungan hutan Wonosadi dapat teratasi dengan adanya pemahaman pentingnya menjaga kelestarian anggrek namun dari sisi ekonomi pun dapat tercapai.

Coelogyne pandurata

Coelogyne pandurata

Kesadaran konservasi anggrek di masyarakat harus didukung oleh segenap pihak. Institusi penelitian dan pendidikan dapat memberikan informasi kepada masyarakat. Selain itu para stake holder yang dalam hal ini konsumen, pengusaha, petani dan hobiis anggrek dapat berkontribusi dalam usaha konservasi. Karena tidak dapat dipungkiri bahwa stake holder ini lah anggrek menjadi bernilai ekonomis. Program konservasi yang

dilakukan oleh institusi pemerintah dan univeristas harus dapat menyentuh dan mengikutsertakan masyarakat

di sekitar hutan.

*) Tulisan ini pernah di muat di Majalah Orchid Indonesia

Dendrobium Kila Blue …

Den. Kila Blue

Den. Kila Blue

Anggrek Dendrobium Kila Blue merupakan jenis anggrek epifit yang masih merupakan Primary Hibrids. Silangan dari Dendrobium toftii (nindii) x Dendrobium williamsianum, diregistrasi oleh Limberlost’s pada tahun 1967. Sampai dengan tahun 2006 hanya tercatat satu kali persilangan yang merupakan keturunan pertama dari Dendrobium Kila Blue x Dendrobium phalaenopsis = Dendrobium Hartley’s Blue yang juga diregistrasi oleh Limberlot’s pada tahun 1971. Sangat sedikit informasi mengenai persilangan dari Primary Hibrids ini.

D. williamsianum

D. williamsianum

Sekilas memang tampak tidak terlalu menarik dan eksotik hasil persilangan tersebut. Dendrobium nindii yang merupakan salah satu tetuanya merupakan jenis anggrek Dendrobium dari section Spatulata yang tentunya memiliki ciri khas petal melintir (tanduk) atau dalam bahasa Inggris disebut Antelope Type. Sedangkan Dendrobium williamsianum masuk ke dalam section Phalaenanthe yang berbentuk bulat. Sehingga dimungkinkan Dendrobium Kila Blue memiliki bentuk dari perpaduan kedua induknya yaitu semi melintir atau bahkan berbentuk intermediate.

Namun anggrek ini dapat dijadikan sebagai batu loncatan atau induk selanjutnya yang memiliki potensi yang belum tergali. Kedua spesies induknya memiliki warna biru yang eksotis dan jarang dimiliki oleh anggrek dalam genus Dendrobium. Selain itu Dendrobium Kila Blue juga sangat kuat memiliki warna labellum biru selain berbentuk lebar. Selanjutnya tergantung kita akan mengkreasikan silangan berikutnya untuk membentuk dan mewarnainya. Selamat mencoba…

Dendrobium Eddy Djaya Remadja …

Den. Eddy Djaya Remadja

Den. Eddy Djaya Remadja

Ada yang terpuaskan saat kita memiliki anggrek koleksi yang telah lama menjadi incaran. Sehingga terasa lengkap koleksi anggrek di kebun kita. Salah satu anggrek kuno yang layak dikoleksi adalah Dendrobium Eddy Djaya Remadja. Hibrida ini merupakan silangan dari penganggrek senior Indonesia yaitu Atmo Kolopaking hasil dari silangan Dendrobium Metasari Mustika x Dendrobium superbum (Syn. anosmum) yang diregistrasi pada tahun 1975. Silangan asli dalam negeri yang sangat di nanti munculnya bunga.

Den. macrophyllum

Den. macrophyllum

Membicarakan hibrida (Primary Hybrids) ini tidak terlepas dari Dendrobium spesies yang menyumbangkan sumber gen-nya sebagai tetua. Spesies tersebut antara lain : D. veratrifolium (Syn. lineale) x D. schroederianum (Syn. phalaenopsis var. schroederianum menurut http://www.orchidspecies.com) = D. Lousiae. Pada generasi persilangan kedua D. Lousiae x D. phalaenopsis = D. Anita. Pada generasi selanjutnya yaitu generasi ketiga D. Anita x D. macrophyllum = D. Meta Sari Mustika, dan terakhir D. Meta Sari Mustika x D. anosmum = D. Eddy Djaya Remadja.

Dari hibrida ini tampak spesies yang melandasi terbentuknya D. Eddy Djaya Remadja. Spesies tersebut antara lain D. veratrifolium dari Seksi Spatulata, D. schroederianum Syn. phalaenopsis dan D. phalaenopsis dari Seksi Phalaenanthe, D. macrophyllum dari Seksi Latourea, dan D. anosmum dari Seksi Dendrobium.

Dendrobium Intersection ‘D. Quek Kiah Huat’ …

Den. Quek Kiah Huat

Den. Quek Kiah Huat

Pada dasarnya tujuan seorang menyilangkan anggrek adalah untuk memperoleh jenis, warna, dan bentuk yang baru. Secara lebih khusus bertujuan untuk memperbaiki genetik, atau menghimpun karakter genetik dari kedua tetuanya dalam satu turunan yang baru. Untuk bunga anggrek terutama genus Dendrobium, persilangan dapat dilakukan dengan cara menyilangkan antar spesies dan antar seksi, namun sampai saat ini penulis belum mendapatkan hasil persilangan antar genus. Untuk persilangan antar spesies dalam satu seksi telah banyak dilakukan penyilang, seperti misalnya Dendrobium phalaenopsis x Dendrobium bigibbum = D. Orchidwood (Thn. 1934). Tipe bunga kedua tetua berbentuk bulat yang masuk ke dalam Seksi Phalaenanthe, tentunya keturunannya pun akan bulat.

D. farmeri

D. farmeri

Namun keunikan yang dicari dengan persilangan antar seksi mengakibatkan perubahan bentuk yang cukup mencolok. Seperti misalnya seksi Phalaenanthe berbentuk bulat dengan seksi Spatulata berbentuk kriting/tanduk, menyebabkan keturunannya akan berubah bentuk seperti semi kriting atau intermediate setengah bulat. Contohnya seperti Dendrobium phalaenopsis x Dendrobium stratiotes = D. Caesar (Thn. 1930). Salah satu persilangan yang unik adalah Dendrobium Udomsri Beauty x Dendrobium farmeri = D. Quek Kiah Huat (Thn. 1988). D. Udomsri Beauty berbentuk bulan sedangkan D. farmeri berasal dari seksi Densiflorum. Dendrobium Quek Kiah Huat disilangkan oleh Tan, K.W. pada tahun 1988 diregistrasi di RHS London. Secara morfologi tanaman, batang dan daunnya merupakan perpaduan yang unik antara kedua tetuanya.

Den. Quek Kiah Huat

Den. Quek Kiah Huat

Tidak seperti dendrobium seksi Phalaenanthe umumnya yang berdaun berurutan dari tengah pseudobulb hingga ujung atas, D. Quek Kiah Huat berdaun di pangkal atas dan terdiri dari 3-4 helai daun. Batangnya pun demikian perpaduan dari dua seksi yang berbeda. Biasanya D. farmeri yang merupakan spesies asli dari kawasan Burma hingga Thailand kurang rajin berbunga. Selain itu beberapa trik untuk membungakan spesies ini perlu dilakukan, seperti menggemukan tanaman dan kemudian di stres dengan tidak disiram. Namun setelah disilangkan dengan D. Udomsri Beauty, menjadi anggrek yang rajin berbunga, mungkin sifat asli spesiesnya telah bercampur dengan tetua lain yang lebih rajin berbunga. Itulah salah satu tujuan dari menyilangkan tanaman, tujuan untuk memperajin bunga, memperoleh bentuk baru yang unik dan warna yang cerah sesuai preferensi pasar.

Registrasi Silangan Dendrobium Indonesia 2011 …

Dendrobium Sonia Lips

Dendrobium Sonia Lips

Pada bulan Nopember 2010 para penyilang anggrek di Indonesia diberikan kemudahan oleh Departemen Pertanian Direktorat Perbenihan untuk meregistrasi hasil silangan anggreknya. Dari sejumlah penyilang yang mendaftarkan hasil silangannya terdiri dari :

1. Wira Silamurti

  • D. Ayah Ayu (D. Memoria Kian-Lian x. D. Sophie Bonnie);
  • D. Big Mac (D. Catawba x D. Madame Udomsri);
  • D. Center Point ( D. Bangsaen Beauty x D. Sianne Beauty);
  • D. Doctor Siti Fadilah Supari (D. Burana Pearl x D. Waianane Blush);
  • D. Tosca Glow (D. Chittrapong x D. Thailand White);
  • D. Valeriani (D. Tosca Glow x D. Shirasagi);

2. A. Sutanto

  • D. Antonius Sutanto (D. Black Dog x D. Blue Sapphire);
  • D. Karanglo Indah (D. King Dragon x D. Bertha Chong);

3. Handojohardjo Orchids

  • D. Argo Bimo (D. Miara x D. strebloceras);
  • D. Haryanti Kristanto (D. Yong Kok Wah x Beach Girl);
  • D. Nathalia Kristanto (D. Bertha Chong x D. Mount Kelly Beauty);
  • D. Nurwani (D. Evy Nurwani x D. violaceo-flavens);
  • D. Theresia Kristanto (D. Kasem Gold x D. violaceo-flavens);

4. Sien Orch

  • D. Bali Gold (D. Bali Moon x D. Odom’s Unique Gem);
  • D. Bhayangkara Jaya (D. Brawijaya x D. Yaap Solossa);
  • D. Maluku Indah (D. Psauruan Indah x D. Yaap Solossa);
  • D. Sari Tani (D. Kim Bora x D. Cinta Papua);

5. D. Rahardjo

  • D. Dikara (D. Thongchai Gold x D. Burana Twist);

6. K. Hendarsyah (LC Nursery)

  • D. Geulis (D. Pink Lips x D. Burana Pearl);
  • D. Mojang Priangan (D. Ting Wong Leong x D. Burana Sweet);
  • D. Sonia Lips (D. Sonia x D. Pink Lips)

7. L. Soetopo

  • D. Parelegi Memori (D. Pralak x D. trilamellatum);

Selain silangan dalam negeri dari genus Dendrobium, terdaftar pula genus dari cattleya dan phalaenopsis, masing-masing adalah :

1. Soerjanto Orchids

  • Rlc. Adinda (Rlc. Lucky Man x Lc. Royal Emperor);

2. A. Sutanto

  • Dtps. Malang Indah (P. Brother Sara Gold x Dtps. I-Hsin Sesame);

Semoga di kemudian hari lebih banyak lagi hasil persilangan anggrek dalam negeri.