Dendrobium Formoso-Lowii

D. Formoso-LowiiAda yang berbeda dari deretan anggrek yang telah ditanam dari botol hampir 4 tahun yang lalu. Memang bukan waktu yang singkat untuk memeliharanya. Namun kepuasan saat berbunga pertama muncul terbayar sudah. Keingintahuan akan indahnya bunga Dendrobium dari section Formosae dapat terwujud.

Namun yang lebih mencengangkan, setelah membuka sebuh program register anggrek ‘Wildcat 2006’ adalah Dendrobium Fromoso-Lowii telah diregistrasi oleh Lawrence pada tahun 1898. Hm … ternyata termasuk anggrek klasik yang telah disilangkan dari spesies Dendrobium formosum x Dendrobium lowii. Tentunya Dendrobium ini termasuk ke dalam Primary Hybrid karena merupakan hasil silangan dua induk spesies.

Susah-susah gampang memeliharanya. Dibeli dari bibit botol salah satu guru anggrek di Jawa Timur, penantian yang panjang dan bingung bercampur aduk. Pembelian 5 botol yang kita anggap saja isi per botol 25 bibit yang totalnya menjadi 125 bibit, hanya tersisa tidak lebih dari 10 tanaman. Banyak yang mati …. tentunya ya.

Proses pembelajaran merawat anggrek dari section Formosae ini kemudian berlanjut.  Proses aklimatisasi dengan Kompot (Community Pot) dengan media pakis dianggap gagal total. Banyak yang mati hal ini dikarenakan bibit anggrek tersebut mudah rebah, dan jika media basah karena siraman, ujung-ujungnya mati busuk. Dari sisa aklimatisasi, maka beralih ke single pot berukuran 8 cm, sekarang diganti menggunakan media Sphagnum Moss. Hal ini mengingatkan saya saat membeli anggrek ex Taiwan yang menggunakan media tersebut dan terlihat sangat subur.

Tanpa disangka, mati juga. Pertanyaan selanjutnya kenapa yah? apa yang salah? Ternyata mengetahui habitat dan kebiasaan anggrek perlu ditekuni dan diamati secara terus menerus. Masing-masing jenis tentunya berbeda, walaupun masih dalah satu genus Dendrobium. Dan kuncinya didapat … tentunya dengan cara over potting dua kali setahun membuat akar tidak jenuh dan pertumbuhan tunas menjadi baik. Mungkin itu salah satu kunci dari sekian rahasia pintu ilmu anggrek yang belum terbuka.

 

Advertisements

Perbanyakan Anggrek dengan Keiki

Den. chrysotoxum var. Suavissimum

Anggrek dengan tipe pertumbuhan sympodial cenderung akan mengeluarkan tunas baru di tempat yang kurang lazim. Biasanya tunas tersebut tumbuh di bekas bulb yang sudah tua dengan daun yang telah rontok, namun tunas tersebut tumbuh di bagian atas bulb. Pada genus Dendrobium sering sekali muncul tunas tersebut yang disebut dengan Keiki. Bagaimana cara perlakuannya, ikuti tip dan trik berikut ini :

Tunas yang tumbuh di atas bulb

1. Keiki yang tumbuh di atas bulb dapat tumbuh dari mulai muncul tunas hingga akhirnya berkembang menjadi bulb dan daun baru. Setelah itu akan mengeluarkan akar yang baru. Tidak lama kemudian Keiki tersebut dapat pula mengeluarkan tunas baru. Ciri dari Keiki yang siap di split (potong) dari tanaman induknya jika telah mengeluarkan tunas baru. Beberapa literatur dapat memotong keiki walaupun tumbuh satu bulb, namun pengalaman kami dengan cara seperti itu keiki akan merana, pertumbuhan lambat bahkan mungkin mati.

Potong keiki dengan gunting tajam dan bersih

2. Jangan takut untung memotong keiki, perlakuan tersebut hampir sama dengan memotong anggrek yang telah dewasa. Gunakan gunting tanaman yang tajam sehingga sekali potong langsung terpisah. Selain itu bersihkan gunting dari kotoran atau lap dengan alkohol. Khawatir gunting bekas memotong tanaman lain yang sakit, sehingga tidak akan menular.

Keiki yang telah dipotong

3. Setelah keiki berhasil dipotong, maka langkah selanjutnya adalah buat larutan dari bahan fungisida yang diberi air campurkan hingga berbentuk pasta (tidak terlalu encer), atau beberapa literatur lama menyebutkan dengan menggunakan bubur Bordeux (penemunya) yaitu dengan campuran air dengan Sulfur atau belerang sehingga menyerupai pasta. Namun jika sulit memperoleh bahan kimia tersebut gunakan Obat merah atau Betadine. Bahan tersebut dapat digunakan karena intinya untuk mencegah masuknya jamur atau bakteri. Jika ternyata masih sulit, setelah dipotong simpan di tempat kering hingga 2-3 hari.

Olesi bekas potongan dengan pasta Fungisida

4. Siapkan pot yang sesuai dengan ukuran keiki, gunakan media yang sesuai dengan anggrek tersebut. Dapat berupa arang kayu di bagian bawahnya. Kemudian ikat dengan menggunakan tali plastik atau menggunakan kawat. Hal tersebut dimaksudkan untuk menghindari guncangan berlebih saat akar berusaha untuk tumbuh dan menempel pada media tadi. Setelah dirasa

Tanam keiki dalam pot

cukup kuat dan tidak berubah posisi tambahkan media cacahan pakis diatas nya sampai dengan pangkal bulb.

5. Langkah selanjutnya adalah beri label jenis dari anggrek yang telah kita split, agar tidak tertukar dan mudah diidentifikasi. Sangat penting untuk selalu memberi nama dalam label anggrek kita, selain untuk memudahkan mengenal jenis, dapat pula untuk menentukan harga jualnya.

Tambahkan label nama anggrek tersebut

6. Perawatan selanjutnya setelah ditanam, simpan anggrek tersebut di tempat yang lebih teduh, hindari dari siraman 1-2 hari agar bekas luka mengering dan tidak terkena air siraman. Perlakuan ini juga berlaku untuk tanaman induk tempat asal keiki di potong.

Selamat mencoba, berusahalah untuk selalu memperhatikan anggrek anda dan carilah informasi lain sebagai pembanding.

Sphagnum Moss Sebagai Media Tanam Anggrek

Kemasan Spagnum Moss yang masih kering

Media tanam anggrek yang biasa digunakan oleh petani anggrek di Indonesia menggunakan cacahan pakis, arang kayu, humus kaliandra, serabut dan chip dari sabut kelapa, dan akar kadaka dari tumbuhan (Simbar menjangan) Asplenium. Namun berbeda halnya dengan media yang biasa digunakan oleh industri anggrek di negara Sub-Tropis seperti Eropa, Asia Timur khususnya Taiwan dan Jepang dan Amerika. Hal ini dikarenakan kemudahan dari memperoleh media tersebut dan kebiasaan budidaya. Permasalah akan timbul tatkala import anggrek dari negara Taiwan contohnya yang menggunakan media Sphagnum Moss. Tentunya memahami informasi penggunaan media tersebut dibutuhkan karena berbedanya sifat fisik.

Sphagnum Moss jarang sekali digunakan di Indonesia karena selain harganya mahal keberadaannya sulit didapat. Namun Sphagnum Moss memiliki beberapa kelebihan, antara lain : 1) dapat menyerap air dan mempertahankan air dengan baik, 2) menjaga kelembapan media dan lingkungan sekitar anggrek, 3) dapat menyerap dan menyimpan pupuk, walapun pemupukan anggrek melalui daun tidak intensif. Dengan demikian pertumbuhan anggrek akan lebih cepat. Namun kelemahan dari media tersebut belum banyak diketahui oleh petani dan penghobi anggrek di Indonesia. Sifat fisik yang menyerupai lumut dapat menyerap air dengan baik membutuhkan kecermatan dalam menyiram tanaman anggrek kita. Jangan sampai terlalu basah karena dapat mengakibatkan media jenuh air sehingga media menjadi asam, lapuk dan ditumbuhi lumut. Jangan pula sampai terlalu kering, karena sifat sphagnum moss yang dapat menyerap kelembapan dan air di akar anggrek. Sehingga anggrek kita akan merana jika media terlalu kering.

Dtps. Taida Salu ex Taiwan menggunakan media Sphagnum Moss

Sphagnum Moss baik digunakan untuk anggrek dari genus Phalaenopsis, Paphiopedilum, Oncidium, Cattleya dan Catasetum, terutama saat fase bibit. Pertumbuhan akan lebih cepat. Anggrek Phalaenopsis yang di import dari Taiwan biasanya menggunakan media tersebut dalam pot putih transparan sampai dengan berbunga.

Perlakuan budidaya anggrek yang berbeda dengan negara asalnya Taiwan, mengharuskan kita cermat dalam memelihara. Sehingga perawatan anggrek dengan media tersebut perlu dipelajari dengan seksama, agar anggrek kita tumbuh dan berbunga dengan optimal. Selamat mencoba.