Stok : Bibit Dendrobium Spesies (SOLD OUT)

Stok terbatas bibit botolan Dendrobium spesies harga Rp. 35.000,- belum termasuk ongkos kirim, siap kirim ke seluruh wilayah Indonesia menggunakan Paket TIKI, JNE, PT. Mex, PT. Next Cargo (Pesawat) untuk Pulau jawa dan Luar Jawa, da, Bis Pahala Kencana Untuk Sumatera hingga Palembang dan Seluruh Pulau Jawa dan Bali. Minimal pemesanan 5 botol.

Dendrobium lasianthera Botolan Rp. 35.000,-

Dendrobium lasianthera Botolan Rp. 35.000,-

Dendrobium schulleri Botolan Rp. 35.000,-

Dendrobium schulleri Botolan Rp. 35.000,-

Advertisements

Konservasi Anggrek*

Paphiopedillum lowii

Paphiopedillum lowii

Anggrek lebih dikenal sebagai tanaman hias eksotik yang keberadaannya tersebar luas di hutan dataran tinggi hingga kawasan landai di pesisir pantai. Anggrek spesies yang tumbuh di habitat aslinya semakin hari terancam keberadaannya. Ancaman tersebut dapat berupa alih fungsi hutan menjadi areal perkebunan, industri, pertambangan dan perumahan selain ekploitasi yang berlebihan. Namun ada faktor yang tidak bisa dikendalikan oleh manusia dalam penanganannya, yaitu ancaman dari bencana alam.

Indonesia yang sebagian wilayahnya dikelilingi oleh pantai dan pegunungan dan terletak di antara dua lepeng tektonik tidak menutup kemungkinan mengalami berbagai macam bencana alam. Seperti Gunung meletus, gempa bumi yang kadang disertai dengan Tsunami, pergeseran tanah yang mengakibatkan erupsi atau longsor. Pada tahun 2010 telah terjadi berbagai bencana alam seperti Tsunami di Mentawai, tanah longsor disertai dengan banjir bandang di Wasior Papua, dan meletusnya Gunung Merapi di Yogyakarta dan Jawa Tengah dan Gunung Bromo di Jawa Timur.

Terjadinya bencana alam tersebut dapat mengancam keberadaan anggrek di habitat aslinya. Ancaman tersebut sangat serius karena dampak kerusakannya dengan cepat dan dalam areal yang sangat luas. Sehingga perlu adanya langkah strategis untuk menanggulangi dan mengurangi dampak kerusakan anggrek di alam akibat bencana alam.

KONSERVASI IN SITU DAN EX SITU

Konservasi anggrek in situ di alamnya dalam bentuk hutan lindung dan hutan konservasi terus di lakukan. Selain itu konservasi anggrek ex situ di luar kawasan harus pula dikembangkan karena dapat dijadikan back up dari habitat di alamnya. Bayangkan oleh kita jika saja konservasi in situ yang selama ini telah dilakukan di kawasan hutan Gunung Merapi dengan sekejap hancur akibat erupsi gunung tersebut. Oleh karena itu penting diusahakan konservasi ex situ di luar kawasan. Tentunya harus didukung oleh informasi kesesuain tempat tumbuh anggrek tersebut.

Upaya pemerintah selama ini memberikan tanggung jawab identifikasi, eksplorasi, koleksi, dan konservasi di pundak balai penelitian pemerintah dengan unit pelaksananya. Keberadaannya sangat nyata dalam hal pengembangan ilmu pengetahuan khususnya anggrek. Seperti  Kebun Raya Bogor, Kebun Raya Cibodas, Kebun Raya Purwodadi, dan Kebun Raya Eka Karya di Bali. Kegiatan pelestarian anggrek di lingkup institusi merupakan bagian dari koleksi spesies tanaman dari berbagai wilayah di Indonesia dalam bentuk kebun raya, cagar alam, kebun koleksi spesies, kebun koleksi plasma nutfah, dan Arboretum.

Konservasi ex situ dapat pula dilakukan oleh univeritas dengan lembaga atau organisasi yang terkait. Laboratorium, Green House dan instalasi konservasi yang dimiliki oleh institusi tersebut setidaknya harus berjauhan dengan kawasan konservasi in situ yang rawan bencana alam. Hal tersebut untuk mengindari dampak yang sama dari kerusakan bencana alam. Sebut saja usaha perbanyakan spesies anggrek dengan perbanyakan melalui kultur in vitro. Dari satu buah anggrek dapat dihasilkan beribu-ribu bibit yang tumbuh dalam media khusus. Selain itu konservasi dengan teknik cryopreservation, di mana organ tanaman dalam bentuk polen, biji anggrek dapat dibekukan dalam suhu dan ruang tertentu. Kegiatan konservasi tersebut sangat mungkin dilakukan oleh universitas.

Peran universitas yang salah satu fungsinya pengabdian pada masyarakat dapat ikut serta dalam upaya pelestarian dan konservasi anggrek di habitatnya. Konservasi bukan hanya menjadi obyek penelitian dan upaya pelestarian saja. Namun di tangan para peneliti di universitas penyebaran informasi kepada masyarakat dalam bentuk penyuluhan, desa binaan, kerjasama pengabdian masyarakat  dapat dicapai. Selain itu aspek pemanfaatan potensi dan pengembangan anggrek untuk mencegah kepunahan, dan meningkatkan nilai ekonomis tanpa bertentangan dengan tujuan konservasi terlaksana dengan sinergis.

MASYARAKAT DAN KONSERVASI

Bulb. carunculatum

Bulb. carunculatum

Upaya konservasi anggrek dapat pula mengikut sertakan organisasi peranggrekan yang ada, pecinta dan hobiis anggrek dan pengusaha anggrek dalam hal ini dapat dikatakan sebagai masyarakat yang peduli anggrek. Tidak menutup kemungkinan peran serta mereka dapat disinergikan. Hanya tinggal bagaimana sinergi tersebut saling menguntungkan dan mendukung dari program konservasi anggrek.

Selama ini masyarakat kurang dapat merasakan secara langsung manfat dari konservasi anggrek, khususnya masyarakat yang tinggal di wilayah hutan. Sehingga perambahan anggrek yang memiliki nilai ekonomis tinggi membuat masyarakat di sekitar hutan mencari dan menjualnya. Berbeda halnya jika saja ada pemahaman yang baik terhadap permasalahan konservasi di tengah masyarakat.

Tentunya masyarakat yang memiliki informasi tentang konservasi dan memanfaatkan anggrek tersebut tidak menjadi kambing hitam dari terancamnya keberadaan anggrek.

Dapat diambil contoh apa yang telah dilakukan oleh masyarakat di sekitar hutan Wonosadi (MOI Edisi lalu) selain kearifan lokal yang ada di lingkungan masyarakat, mereka pun dapat memanfaatkan potensi hutan yang ada untuk keberlangsungan hidup sehari-hari. Maka permasalahan konservasi anggrek di lingkungan hutan Wonosadi dapat teratasi dengan adanya pemahaman pentingnya menjaga kelestarian anggrek namun dari sisi ekonomi pun dapat tercapai.

Coelogyne pandurata

Coelogyne pandurata

Kesadaran konservasi anggrek di masyarakat harus didukung oleh segenap pihak. Institusi penelitian dan pendidikan dapat memberikan informasi kepada masyarakat. Selain itu para stake holder yang dalam hal ini konsumen, pengusaha, petani dan hobiis anggrek dapat berkontribusi dalam usaha konservasi. Karena tidak dapat dipungkiri bahwa stake holder ini lah anggrek menjadi bernilai ekonomis. Program konservasi yang

dilakukan oleh institusi pemerintah dan univeristas harus dapat menyentuh dan mengikutsertakan masyarakat

di sekitar hutan.

*) Tulisan ini pernah di muat di Majalah Orchid Indonesia

Dendrobium Eddy Djaya Remadja …

Den. Eddy Djaya Remadja

Den. Eddy Djaya Remadja

Ada yang terpuaskan saat kita memiliki anggrek koleksi yang telah lama menjadi incaran. Sehingga terasa lengkap koleksi anggrek di kebun kita. Salah satu anggrek kuno yang layak dikoleksi adalah Dendrobium Eddy Djaya Remadja. Hibrida ini merupakan silangan dari penganggrek senior Indonesia yaitu Atmo Kolopaking hasil dari silangan Dendrobium Metasari Mustika x Dendrobium superbum (Syn. anosmum) yang diregistrasi pada tahun 1975. Silangan asli dalam negeri yang sangat di nanti munculnya bunga.

Den. macrophyllum

Den. macrophyllum

Membicarakan hibrida (Primary Hybrids) ini tidak terlepas dari Dendrobium spesies yang menyumbangkan sumber gen-nya sebagai tetua. Spesies tersebut antara lain : D. veratrifolium (Syn. lineale) x D. schroederianum (Syn. phalaenopsis var. schroederianum menurut http://www.orchidspecies.com) = D. Lousiae. Pada generasi persilangan kedua D. Lousiae x D. phalaenopsis = D. Anita. Pada generasi selanjutnya yaitu generasi ketiga D. Anita x D. macrophyllum = D. Meta Sari Mustika, dan terakhir D. Meta Sari Mustika x D. anosmum = D. Eddy Djaya Remadja.

Dari hibrida ini tampak spesies yang melandasi terbentuknya D. Eddy Djaya Remadja. Spesies tersebut antara lain D. veratrifolium dari Seksi Spatulata, D. schroederianum Syn. phalaenopsis dan D. phalaenopsis dari Seksi Phalaenanthe, D. macrophyllum dari Seksi Latourea, dan D. anosmum dari Seksi Dendrobium.

Anggrek Beraroma sebagai Sumber Daya Genetik*)

Vanda tricolor

Vanda tricolor

Indonesia yang berada di daerah tropis merupakan daerah yang sangat cocok untuk tempat tumbuh dan berkembangnya tanaman anggrek. Hingga saat ini perkembangan keindahan bunga dan keanggunannya masih menjadi daya tarik konsumen. Para pemulia dan penyilang anggrek telah berupaya untuk menurunkan karakter warna mencolok, bunga yang tahan lama, ukuran bunga yang besar dengan jumlah kuntum yang banyak . Namun penelitian tentang aroma harum bunga anggrek di Indonesia masih jarang dilakukan. Hal ini merupakan terobosan untuk dapat lebih mengembangkan industri peranggrekan. Khususnya mengenai aroma yang dikeluarkan oleh bunga anggrek.

Beberapa bunga anggrek memiliki senyawa volatil yang terkandung di dalam kelopak bunga. Kemampuan bunga anggrek untuk mengeluarkan senyawa tersebut berfungsi sebagai penarik serangga yang membantu dalam proses reproduksi (Pichersky dan Dudareva, 2007), (Verdonk, dkk., 2005), (Yu, dkk. 2005), (Kaiser, 1993) . Sehingga penyebaran anggrek di alam dapat tersebar melalui bantuan serangga. Selain itu aroma bau yang menyengat dimiliki oleh beberapa bunga anggrek, hal ini dimaksudkan untuk menghindari dari kepunahan akibat hewan herbivora pemakan tumbuhan.

Phal. violacea

Phal. violacea

Spesies anggrek yang memiliki aroma wangi antara lain berasal dari genus Bulbophyllum lobii Lindl., Coelogyne pandurata Lindl.,  Dendrobium amboinensis Hook., D. anosmum Lindl., D. canaliculatum R.Brown., D. crumenatum Sw., Phalaenopsis. bellina Chrs., Phal.violacea Witte., Rhyncostylis retusa (L.) Blume., Vanda tricolor (L) Rchb.f. (Yu, dkk. 2008), (Kaiser, 1993), dan Moeso Suryowinoto (1987). Selain itu digunakan anggrek Grammatophyllum stapeliaeflorum J.J.Sm.. Sebagai kontrol pembanding. Jenis anggrek tersebut merupakan plasma nutfah anggrek yang penyebaran dapat ditemukan di wilayah Indonesia.

Langkah penelitian yang akan dilakukan adalah mengumpulkan spesies anggrek yang memiliki aroma wangi yang bersumber dari hutan, penangkar anggrek dan kios pedagang anggrek spesies. Selain itu mempelajari mekanisme fenologi bunga untuk memperoleh data tingkat kemekaran dan sifat fisiologis dari bunga anggrek. Penelitian lebih lanjut adalah mengamati ekspresi gen dengan mengisolasi gen pembawa sifat wangi yang dilanjutkan dengan karakterisasi gen tersebut. Sehingga didapat informasi dan identifikasi gen pembawa aroma wangi.

D. anosmum

D. anosmum

Diharapkan dari hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai informasi keragaman genetik plasma nutfah anggrek yang memiliki aroma wangi, berdasarkan pengamatan fenologi, fisiologi, dan analisis PCR untuk mengisolasi gen pembawa sifat wangi pada bunga anggrek. Diperoleh informasi untuk para pemulia dan pengembangan plasma nutfah dan aplikasi bioteknologi anggrek selanjutnya. Dari penelitian ini dihasilkan pula jurnal publikasi ilmiah untuk seminar nasional dan internasional.

*) Diambi dari Abstrak riset berjudul : Identifikasi Gen Pengendali Aroma Wangi pada Anggrek Spesies Indonesia, oleh : Kiki Hendarsyah

Dendrobium amboinensis … Permata dari Ambon

D. amboinensis Hook 1856

D. amboinensis Hook 1856

Anggrek yang masuk dalam Genus Dendrobium ini memiliki keindahan yang tiada tara. Bunganya dapat mencapai ukuran diameter 25-30 cm jika dibentangkan dari sepal terminal ke sepal lateral. Sayangnya bunga anggrek ini tidak tahan lama hanya 1 hari, bahkan mekar penuhnya hanya beberapa jam. Dapat berbunga 2-4 kuncup secara bersamaan. Dapat berbunga setiap saat tanpa mengenal musim. Distribusi penyebaran hingga kini diketahui di Kepulauan Maluku dan sekitarnya. Tentunya anggrek ini sangat menghendaki suhu yang panas karena tumbuh di alam dekat dengan permukaan laut.

Perawatan : Penyiraman 1 hari sekali jika kondisi cuaca kering, bisa tumbuh baik dengan naungan shading net saja sehingga air hujan dapat masuk.

Pemupukan : Seminggu 2 kali, menggunakan Pupuk 21:21:21

Intensitas cahaya : 80% s.d. 50% masuk

Suhu : Malam 22 derajat C s.d. 27 derajat C, Siang 29 derajat C s.d. 33 derajat C

Arachnis celebica (Schltr.) J.J. Smith, Anggrek Kalajengking Berbulu Leopard

arachnis-celebica_bTumbuh menempel ternaungi kanopi pohon dengan ketinggian 12 m di atas permukaan tanah, dekat dengan pinggiran sungai. Melingkar batang pohon yang ditempelinya hingga tidak bisa terlihat pangkal ujungnya. Selain itu pula dapat tumbuh di daerah pinggiran sungai bersemak di atas kayu lapuk dekat dengan permukaan tanah atau di atas permukaan batuan kapu pada tebing sungai dan tanpa ternaungi kanopi.

arachnis-celebica_aPanjang daun mencapai 35 cm berwarna hijau tua pada daerah yang ternaungi, daun berwarna kekuningan jika terkena sinar matahari langsung. Lebar daun 5 cm berbentuk pita pipih (Strap Leaf), tersusun secara horisontal pada samping batang dengan jarak antar daun 5 cm.

arachnis-celebica_cAda beberapa kesamaan anatomi yang teridentifikasi sebelumnya yang sudah dipubkilasikan yaitu Sarcanthopsis nagarensis dari New Guinea (Papua) yang sekarang lebih dikenal dengan Vandopsis warocqueana. Menurut Peter O’Bryne (2004) dalam Malayan Orchid Review menyatakan bahwa pertama kalinya diidentifikasi sebagai Vandopsis celebica oleh Schlechter pada tahun 1911 yang ditemukan di daerah Minahasa di ketinggian 800 – 1.000 m dpl. Dijabarkan dalam ‘The Orchidaceae of the Celebes’ Part 1. Gambar Ilustrasi Schlechter pertama kalinya arachnis-celebica_ddalam ‘Repertorium Specierum Novarum Regni Vegetabilis’ tahun 1934. J.J. Smith sepakat dengan keputusan Schlechter dan memasukkannya ke dalam Genus Arachnis tahun 1912. Sejak itu anggrek ini dikenal dan diidentifikasi sebagai Arachnis celebica (Schltr.) J.J. Smith.

LC Nursery & Laboratory

Mengenal Vanda tricolor Lindl.

Vanda tricolor Lindl. merupakan salah satu spesies anggrek dari Genus Vanda yang penyebarannya sangat luas. Dari mulai Pulau Jawa, Bali, Alor dan sepanjang kepulauan Indonesia dari Timur hingga Barat. Sedangkan batas penyebaran dari arah Utara meliputi kepulauan Luzon Filipina dan bagian Selatan yaitu Benua Australia. Anggrek ini biasa tumbuh menempel pada pohon dengan ranting atau cabang pohon yang tidak terlalu rimbun. Hidup di alam pada ketinggian 700 m s.d. 800 m di atas permukaan laut. Tetapi penyebaran yang sangat luas ini tidak menutup kemungkinan dapat hidup pada level dataran yang lebih rendah. Dalam buku ‘Bunga Anggerik’ Permata Belantara Indonesia terbitan N.V. Penerbitan W. VanHoeve-Bandung’s-Gravenhage, 1953, yang ditulis oleh S.M. Latief menyebutkan nama lain dari anggrek ini dalam bahasa Indonesia adalah Anggrek Pandan.

 Tipe pertumbuhan monopodial, merupakan anggrek epifit yang menempel pada pohon-pohon, tetapi tidak bersifat merugikan tanaman yang ditempelinya. Daun berbentuk pita berdaging (strap leaf vanda) dengan lebar sekitar kurang lebih 3 cm dan panjang 45 cm. Tersusun saling bergantian pada batang yang tumbuh tegak mencapai 100 cm. Tangkai bunga keluar dari ketiak daun dengan panjang kurang lebih 50 cm dengan jumlah bunga berkisar antara 5 sampai dengan 15 kuntum bunga. Sepal dan Petal berwarna dasar antara putih dan kuning dengan corak totol berwarna coklat hingga kuning. Labelum berwarna putih hingga merah muda. Bunga mengeluarkan wangi.
V. tricolor

V. tricolor

Vanda tricolor Lindl. dapat dibedakan ke dalam beberapa varietas yang biasanya dikenal sebagai Vanda suavis Rhcb.f. Bahkan para penganggrek dan ahli botani memasukkan Vanda suavis sebagai salah satu varietas Vanda tricolor Lindl. var. suavis Rhcb.f. Selain itu terdapat varietas lain seperti Vanda tricolor Lindl. var. palida.